Senin, 16 Januari 2012

Cara Termudah Menghafal Al-Qur`an Al-Karim


Segala pujian hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya, dan para sahabat seluruhnya. Keistimewaan metode ini adalah seseorang akan memperoleh kekuatan dan kemapanan hafalan serta dia akan cepat dalam menghafal sehingga dalam waktu yang singkat dia akan segera mengkhatamkan Al-Quran. Berikut kami akan paparkan metodenya beserta pencontohan dalam menghafal surah Al-Jumuah:
1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali.
2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali.
3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali.
4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali
5. Keempat ayat di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali.
7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali.
8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali.
9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali.
10. Keempat ayat (ayat 5-8) di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
11. Bacalah ayat pertama hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.
Demikian seterusnya pada setiap surah hingga selesai menghafal seluruh surah dalam Al-Quran. Jangan sampai kamu menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, karena itu akan menyebabkan hafalanmu bertambah berat sehingga kamu tidak bisa menghafalnya.

JIKA AKU INGIN MENAMBAH HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA, BAGAIMANA CARANYA?

Jika kamu ingin menambah hafalan baru (halaman selanjutnya) pada hari berikutnya, maka sebelum kamu menambah dengan hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas, maka anda harus membaca hafalan lama (halaman sebelumnya) dari ayat pertama hingga ayat terakhir (muraja’ah) sebanyak 20 kali agar hafalan ayat-ayat sebelumnya tetap kokoh dan kuat dalam ingatanmu. Kemudian setelah mengulangi (muraja’ah) maka baru kamu bisa memulai hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas.

BAGAIMANA CARANYA AKU MENGGABUNGKAN ANTARA MENGULANG (MURAJA’AH) DENGAN MENAMBAH HAFALAN BARU?

Jangan sekali-kali kamu menambah hafalan Al-Qur`an tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya. Hal itu karena jika kamu hanya terus-menerus melanjutkan menghafal Al-Qur’an hingga khatam tapi tanpa mengulanginya terlebih dahulu, lantas setelah khatam kamu baru mau mengulanginya dari awal, maka secara tidak disadari kamu telah banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal. Oleh karena itu metode yang paling tepat dalam menghafal adalah dengan menggabungkan antara murajaah (mengulang) dan menambah hafalan baru. Bagilah isi Al-Qur`an menjadi tiga bagian,yang mana satu bagian berisi 10 juz. Jika dalam sehari kamu telah menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga kamu menyelesaikan 10 juz. Jika kamu telah berhasil menyelesaikan 10 juz maka berhentilah menghafal selama satu bulan penuh dan isi dengan mengulang apa yang telah dihafal, dengan cara setiap hari kamu mengulangi (meraja’ah) sebanyak 8 halaman.

Setelah selesai satu bulan kamu mengulangi hafalan, sekarang mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan hafalan 20 juz. Jika kamu telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulangi hafalan 20 juz, dimana setiap hari kamu harus mengulang (meraja’ah) sebanyak 8 halaman. Jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.

Jika anda telah selesai menghafal semua isi Al-Qur`an, maka ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan, dimana setiap harinya kamu mengulang setengah juz. Kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya, juga diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama setiap harinya. Kemudian pindahlah untuk mengulang 10 juz terakhir dari Al-Qur`an selama sebulan, dimana setiap harinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

BAGAIMANA CARA MERAJA’AH AL-QURAN (30 JUZ) SETELAH AKU MENYELESAIKAN METODE MURAJA’AH DI ATAS?

Mulailah mengulangi Al-Qur’an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulanginya 3 kali dalam sehari. Dengan demikian maka kamu akan bisa mengkhatamkan Al-Qur’an sekali setiap dua minggu.

Dengan metode seperti ini maka dalam jangka satu tahun (insya Allah) kamu telah mutqin (kokoh) dalam menghafal Al-Qur’an, dan lakukanlah cara ini selama satu tahun penuh.

APA YANG AKU LAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL-QUR’AN SELAMA SATU TAHUN?

Setelah menguasai hafalan dan mengulangInya dengan itqan (mantap) selama satu tahun, hendaknya bacaan Al-Qur’an yang kamu baca setiap hari hingga akhir hayatmu adalah bacaan yang dilakukan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- semasa hidup beliau. Beliau membagi isi Al-Qur`an menjadi tujuh bagian (dimana setiap harinya beliau membaca satu bagian tersebut), sehingga beliau mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sepekan.

Aus bin Huzaifah -rahimahullah- berkata: Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, “Bagaimana caranya kalian membagi Al-Qur`an untuk dibaca setiap hari?” Mereka menjawab:

نُحَزِّبُهُ ثَلَاثَ سُوَرٍ وَخَمْسَ سُوَرٍ وَسَبْعَ سُوَرٍ وَتِسْعَ سُوَرٍ وَإِحْدَى عَشْرَةَ سُورَةً وَثَلَاثَ عَشْرَةَ سُورَةً وَحِزْبَ الْمُفَصَّلِ مِنْ قَافْ حَتَّى يُخْتَمَ

“Kami membaginya menjadi (tujuh bagian yakni): Tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, tiga belas surat, dan hizb al-mufashshal yaitu dari surat Qaf sampai akhir (mushaf).”  (HR. Ahmad no. 15578).

Maksudnya:
-Hari pertama: Mereka membaca surat “al-fatihah” hingga akhir surat “an-nisa`”.
-Hari kedua: Dari surat “al-maidah” hingga akhir surat “at-taubah”.
-Hari ketiga: Dari surat “Yunus” hingga akhir surat “an-nahl”.
-Hari keempat: Dari surat “al-isra” hingga akhir surat “al-furqan”.
-Hari kelima: Dari surat “asy-syu’ara” hingga akhir surat “Yasin”.
-Hari keenam: Dari surat “ash-shaffat” hingga akhir surat “al-hujurat”.
-Hari ketujuh: Dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-nas”.

Para ulama menyingkat bacaan Al-Qur`an Nabi -shallallahu alaihi wasallam- ini menjadi kata:
فَمِي بِشَوْقٍ“.
Setiap huruf yang tersebut menjadi simbol dari awal surat yang dibaca oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pada setiap harinya. Maka:

- Huruf “fa`” adalah simbol dari surat “al-fatihah”. Maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari pertama dimulai dari surah al-fatihah.
- Huruf “mim” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kedua dimulai dari surah al-maidah.
- Huruf “ya`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketiga dimulai dari surah Yunus.
- Huruf ”ba`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keempat dimulai dari surah Bani Israil yang juga dinamakan surah al-isra`.
- Huruf “syin” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kelima dimulai dari surah asy-syu’ara`.
- Huruf “waw” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keenam dimulai dari surah wash shaffat.
- Huruf “qaaf” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketujuh dimulai dari surah qaf hingga akhir muashaf yaitu surah an-nas.

Adapun pembagian hizib yang ada pada Al-Qur an sekarang, maka itu tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.

BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANG MUTASYABIH (AYAT YANG MIRIP) DALAM AL-QUR’AN?

Cara terbaik untuk membedakan antara dua ayat yang kelihatannya menurut kamu hampir sama (mutasyabih), adalah dengan cara membuka mushaf dan carilah kedua ayat tersebut. Lalu carilah perbedaan antara kedua ayat tersebut, cermatilah perbedaan tersebut, kemudian buatlah tanda/catatan (di dalam hatimu) yang bisa kamu jadikan sebagai tanda untuk membedakan antara keduanya. Kemudian, ketika kamu melakukan murajaah hafalan, maka perhatikanlah perbedaan tersebut secara berulang-ulang sampai kamu mutqin dalam mengingat perbedaan antara keduanya.

BEBERAPA KAIDAH DAN KETENTUAN DALAM MENGHAFAL AL-QUR`AN:

1- Kamu harus menghafal melalui bantuan seorang guru yang bisa membenarkan bacaanmu jika salah.
2- Hafalkanlah 2 halaman setiap hari: 1 halaman setelah subuh dan 1 halaman setelah ashar atau maghrib. Dengan metode seperti ini (insya Allah) kamu akan bisa menghafal Al-Qur`an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun. Tetapi jika kamu memperbanyak kapasitas hafalan setiap harinya maka kemampuan menghafalmu akan melemah.
3- Menghafallah mulai dari surat an-nas hingga surat al-baqarah karena hal itu lebih mudah. Tapi setelah kamu menghafal Al-Qur`an maka urutan meraja’ahmu dimulai dari Al-Baqarah sampai An-Nas.
4- Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf saja (baik dalam cetakan maupun bentuknya), karena hal itu sangat membantu dalam menguatkan hafalan dan agar lebih cepat mengingat letak-letak ayatnya, ayat apa yang ada di akhir halaman ini dan ayat apa yang ada di awal halaman sebelahnya.
5- Setiap orang yang menghafal Al-Qur’an pada 2 tahun pertama biasanya apa yang telah dia hafal masih mudah hilang, dan masa ini disebut fase at-tajmi’ (pengumpulan hafalan). Karenanya janganlah kamu bersedih karena ada sebagian hafalanmu yang kamu lupa atau kamu banyak keliru dalam hafalan. Ini adalah fase yang sulit sebagai ujian bagimu, dan ini adalah fase rentan yang bisa menjadi pintu masuknya setan untuk menghentikan kamu dari menghafal Al-Qur`an. Tolaklah was-was tersebut dari dalam hatimu dan teruslah menghafal, karena dia (menghafal Al-Qur`an) merupakan perbendaharaan harta yang tidak diberikan kepada sembarang orang.

[Oleh: Asy-Syaikh Dr. Abdul Muhsin Muhammad Al-Qasim, imam dan khathib di Masjid Nabawi]

Rabu, 04 Januari 2012

Fungsi Hizb Dalam Al-Qur'an


Berikut artikel tentang cara mengenali sistem penandaan dalam halaman al-Qur’an khususnya cara untuk mengetahui permulaan setiap kisah/cerita dalam al-Qur’an. Sebagaimana yang diketahui :

  • 1 Al-Qur'an = 30 Juz,
  • 1 Juz = 2 Hizb,
  • 1 Hizb = 4 Maqra’ (pecahan 1/4 hizb , 1/2 hizb) , 3/4 hizb dan 1 hizb penuh),
  • 1 Al-Qur’an = 240 Maqra’ @ pecahan,

Al-Quran mempunyai 30 juz. Setiap juz mempunyai 2 Hizb dan setiap Hizb pula mempunyai 4 pecahan atau maqra’. Paling mudah untuk tahu ada perkataan hizb ( حزب). Kerapkali anda akan berjumpa dengan tanda, 1/4, 1/2, 3/4 dan hizb penuh. Apabila anda menjumpai hizb itu (selalu berada di luar kotak ayat), yang bermakna/merupakan tanda yang menunjukkan permulaan kisah atau cerita yang baru. Sebagai contoh, ayat 123 surah Al-Baqarah dan sebelumnya menceritakan tentang perihal Bani Israel. Petunjuk hizb: tedapat tanda bunga selepas ayat 123. Bermula ayat 124 surah yang sama, Allah menceritakan pula tentang kisah nabi Ibrahim dan Ismail.

Kita biasanya akan berhenti membaca Al-Qur’an mengikut surah atau halaman. Sebaiknya berhenti pada setiap عatau maqra’ hizb.

Apa yang baik itu datangnya dari ALLAH, dan buruk itu datangnya dari saya sendiri walaupun hakikatnya, kedua-duanya datang dari-Nya. WALLAHualam Bis Sowwab. Moga manfaatnya diperoleh oleh kita bersama. InsyaALLAH…  

Juni 2012 MTQ Nasional di Gelar di Maluku


JAKARTA -- Musabakah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional, tetap digelar di Maluku. Ketegangan di Ambon beberapa waktu lalu tidak menyurutkan niat pemerintah pusat, maupun pemerintah Maluku untuk menggelar kegiatan akbar tersebut. MTQ disepakatai pemerintah pusat dan pemerintah Maluku, digelar pada 9 Juni 2012 mendatang. 

Sejumlah rangkaian kegiatan mulai dilakukan. Mulai dari koordinasi dengan pemerintah pusat, maupun persiapan peserta MTQ yang akan diikutkan mewakili provinsi Maluku. Selasa (20/12) kemarin, Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu, Kepala LPTQ Maluku, Rahman Soumen, melakukan rapat koordinasi dengan Mekokesra, Agung Laksosno, Menteri Agama Nasarudin Umar, Sekjen Menteri Agama Bahrul Hayat, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, dan Kapolri Timor Pradopo. 

Rapat digelar di Kementerian Kesra di Jakarta. Rapat tersebut menyimpulkan,MTQ tetap digelar di Maluku, semua jajaran mendukung penuh kegiatan tersebut tetap berlangsung. Kapolri dan Panglima berkomitmen akan membeckup kegiatan tersebut dari gangguan keamanan, seperti yang sering terjadi belakangan ini.

“Kami (Polisi dan TNI) akan membeckup, sehingga dengan kondisi keamanan yang tercipta, kegiatan MTQ bisa berjalan dengan baik,” kata Kapolri.

Dalam dua bulan sekali, polisi dan TNI akan mengevaluasi keamanan di Maluku, khususnya Kota Ambon. Sehingga pada rapat tersebut, juga disepakati agar Gubernur Maluku dan jajarannya tetap melakukan persiapan untuk pelaksanaan MTQ.

Sementara Menteri Agama Surya Dharma Ali juga merespon positif kegiatan tersebut. Dia juga mengimbau agar masyarakat Ambon dapat menjaga keamanan secara bersama-sama dengan aparat keamanan, sehingga MTQ nantinya berjalan lancar dan aman.

Beberapa agenda acara bahkan sudah dirancang, di antaranya, MTQ akan dibuka secara resmi langsung oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, pada 9 Juni 2011 mendatang. Besoknya SBY akan mengunjungi Pulau Banda. Kegiatan ini sendiri akan berlangsung selama 10 hari, dan akan ditutup oleh Wakil Presiden RI, Boediono.

Gubernur Maluku menyambut baik respon dari pemerintah pusat. Menurutnya ini merupakan kepercayaan yang diberikan kepada Maluku untuk menggelar kegiatan tersebut. Dia berkomitmen akan menjadi Maluku bukan hanya sebagai tuan rumah yang sukses, tapi juga mampu menyumbangkan prestasi dalam berbagai mata lomba MTQ, seperti hafiz Qur’an, Tilawah dan lainnya.

“Kami akan berupaya maksmimal, untuk keluar sebagai juara umum, bukan hanya sebagai penyelenggara kegiatan yang sukses. Kami sementara menyiapkan qori dan qori’a terbaik, yang bisa keluar sebagai juara,” kata Karel, usai pertemuan.

Sehingga dia mengimbau masyarakat Maluku untuk menjaga keamanan, bukan hanya untuk penyelenggaraan MTQ semata, tapi keamanan yang bisa tercipta secara abadi. Karena MTQ merupakan kegiatan berskala nasional, dan dipercayakan digelar di Maluku.

“Kondisi keamanan sangat penting, sebagai kepala pemerintahan di Maluku, saya berharap agar masyarakat Maluku bisa menjaga keamanan secara bersama. Jika kondisi keamanan baik, tentu MTQ juga akan berjalan dengan lancar,” pintanya.

Dia mengatakan, ini merupakan kegiatan keagamaan yang kebanyakan digelar wilayah Indonesia Barat dan tengah, kini dipercayakan digelar di Indonesia Timur, dan daerah yang ditunjuk adalah Maluku. “Jangan kita sia-siakan kepercayaan ini. Ini merupakan kesempatan emas untuk masyarakat Maluku, karena bukan hanya sebagai sarana penyaluran bakat belaka, tapi juga sebagai media untuk mengangkat harkat masyarakat Maluku di mata nasional bahkan manca negara. Dan manfaatnya, bukan hanya manfaat religiutas saja, tapi juga manfaat ekonomi, pariwisata, dan banyak lagi,” urai Karel.

Usai pertemuan di Menko Kesra, pertemuan dilanjutkan di Hotel Grend Hiyat Jakarta. Yang hadir adalah, Kepala Kantor Wilayah Agama Maluku, M. Atamimi, Kepala Taman Seni Baca Alqur’an, Ustat Sanusi (salah satu Imam mesjid Alfatah), dan juga Mantan Menteri Agama RI, Prof. Dr. H Said Agil Husin Al Munawar yang diundang khusus. 

Pemerintah Maluku sepakat untuk menggunakan jasa mantan menteri Agama Prof Said, untuk mendidik dan membimbing qori dan qori’a yang akan tampil di MTQ. Prof Said mengatakan, dia akan berupaya maksimal untuk memberikan ilmunya kepada peserta dari Maluku yang akan dibimbing. “Saya akan dibantu beberapa teman, kami akan melakukan pembimbingan kepada peserta dari Maluku, sehingga Maluku bisa keluar sebagai juara umum, bukan sekedar penyelenggara yang sukses,” kata Prof Said, kepada Ambon Ekspres.

Dia mengatakan, pembimbingan akan dilakukan di Ambon dan di Jakarta. Pihaknya akan berangkat ke Ambon dan melihat potensi masing-masing qori-qori’a, dan memutuskan siapa yang dibimbing di Jakarta, dan siapa yang tetap saja dibimbing di Ambon. Peserta juga merupakan orang Maluku, bukan qori yang diambil dari luar Maluku. Dipredisksi proses pembimbingan kemungkinan berlangsung selama satu bulan, sebelum MTQ digelar, akan digunakan tekhnik-tekhnik khusus dalam pembingan sehingga potensi peserta saat MTQ keluar secara maksimal, dan tidak canggung, atau gugup. 

Prof Said juga mengimbau kepada masyarakat Maluku untuk selalu menjaga keamanan secara bersama, dengan aparat keamanan. Sehingga kehidupan kerukunan umat beragama berjalan lancar. “Maluku punya sejarah konflik, dan kembali akur dalam waktu yang relatif singkat. Sebetulnya toleransi umat beragama di Maluku sangat tinggi, ini harus dipelihara sehingga masyarakat hidup tenang, aman dan berdampingan,” imbaunya.

Sementara itu ustat Sanusi mengatakan, berharap peserta yang akan tampil nantinya dapat mengharumkan nama Maluku di MTQ. Dia menjelaskan, dalam pembimbingan peserta MTQ, tidaks erta merta hasil MTQ tingkat Provinsi Maluku yang digelar di Dobo beberapa bulan lalu mewakili Maluku. Namun peserta-peserta terbaik dari hasil di Dobo, dibimbing lagi oleh mantan menteri agama, dan tim di Maluku, untuk diikutkan. 

“Intinya kami akan lakukan maksimal agar Maluku tampil terbaik, sehingga hasil di Dobo itu tidak secara otomatis langsung mewakili Maluku, tapi mereka akan dibimbing lagi,” jelasnya. (fik/fmc) 

Sejarah Singkat Al-Quran.


Pendahuluan.
Al-Quran adalah kitab suci yang berisi firman-firman Allah Swt yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. Pemakaian nama Al-Quran dinukilkan dari surat Al-Qiyaamah ayat 17 dan ayat 18. Al-Quran terdiri dari 114 Surat, 6.236 Ayat (sebagian ulama mengatakan 6666 ayat), 77.439 kata, 74437 kalimat dan 323.015 huruf (ada juga yang mengatakan 325345 huruf) yang diturunkan dalam kurun waktu 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari [1]. Pada masa prakedatangan Islam, bangsa Arab mencapai puncak kejahiliyahannya. Namun demikian di sisi lain, bangsa Arab terkenal dengan keindahan puisi-puisi dan keelokan pidato mereka. Bahasa Arab merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan mereka. Namun budaya yang berkembang pada saat itu lebih pada budaya lisan/oral ketimbang budaya baca-tulis. Tak mengherankan bila sebagian besar mereka buta huruf. Kendatipun begitu, bangsa Arab mempunyai daya ingat yang sangat kuat. Untuk memelihara danmeriwaytkan syair-syair Arab, silisah keturunan mereka, peperangan yang terjadi, dan peristiwa lainnya, mereka hanya mengandalkan daya ingat dan hapalan semata.

Sejarah Singkat Turunnya Al-Quran.

Wahyu pertama turun pada saat Nabi SAW berusia 40 tahun di saat beliau sedang bermeditasi di Gua Hira (17 Ramadhan). Wahyu berikutnya turun 3 tahun kemudian. Urut-urutan Surat yang terdapat dalam Al-Quran bukan berdasarkan urutan turunnya ayat-ayat tersebut.
Surat pertama yang diwahyukan adalah Al-‘Alaq (QS: 96) dan yang turun terakhir adalah An-Nasr (QS: 110), sedangkan ayat terakhir yang diturunkan adalah ayat 3 dari surat Al-Maaidah. Sedangkan surat pertama yang terdapat dalam Al-Quran adalah Al- Fatihah (QS: 1) dan yang terakhir An-Nas (QS: 114).

Urutan-urutan dalam Al-Quran tersebut semata-mata berdasarkan petunjuk dari Allah SWT kepada Nabi SAW. Al-Quran diturunkan tidak secara sekaligus tapi secara berangsur-angsur. Di Mekah selama 13 tahun dan di Madinah 10 tahun. Terbagi menjadi ayat-ayat Makkiyyah (19/30 = 86 surat) dan Madaniyyah (11/30 = 28 surat)

Periodisasinya sbb [2] :
Periode Mekah I (4-5 tahun): Dakwah Islam masihdalam ruang lingkup yang kecil. Belum begitu banyak resistansi. Ayat-ayat yang turun umumnya tentang (i) pelajaran bagi Rasulullah dalam membentuk kepribadiannya, (ii) pengetahuan dasar tentang sifat-sifat Allah, (iii) keterangan tentang dasar-dasar akhlak islamiyah dan bantahan tentang pandangan hidup masyarakat jahiliyah saat itu.
Periode Mekah II (8-9 tahun): Dakwah Islam mulai terbuka. Oposisi terhadap Islam dari penduduk Mekah mulai terbentuk untuk menghalangi dakwah. Ayat-ayat yang turun umumnya tentang (i) kewajiban prinsipal penganutnya, (ii) kecaman & ancaman kepada kaum musyrik yang berpaling dari kebenaran, (iii) argumentasi tentang keesaan Tuhan dan kepastian hari kiamat.
Periode Madinah (10 tahun): Masyarakat Islam mulai terbentuk di Madinah setelah Nabi SAW hijrah dari Mekah. Selain oposisi dari jahiliyah Mekah, warga Yahudi di Medinah yang semula berikrar untuk hidup berdampingan dengan Muslim juga mulai menghalangi-halangi dakwah Nabi SAW.
Pada masa Nabi SAW, kertas seperti yang kita kenal sekarang belum lagi sampai ke Jazirah Arab, walaupun sudah ditemukan di Cina. Karena Nabi SAW tidak bisa membaca dan menulis, pada saat turunnya wahyu, Nabi SAW langsung menyampaikan wahyu tersebut kepada sahabat-sahabatnya. Para sahabat kemudian menghafalnya di luar kepala dengan bimbingan Nabi SAW. Beberapa sahabat yang pandai menulis selain diminta menghafal juga diminta untuk menuliskan di media tulis kayu, batu, kain, kulit, dsb. Untuk menjaga kemurnian Al-Quran ini setiap tahun Malaikat. Jibril akan mengulang hafalan Al-Quran bersama Nabi SAW. Pada tahun terakhir menjelang ajalnya, bahkan Jibril bersama Nabi SAW mengulang hafalan tersebut dua kali.
Masa Para Khalifah, kodifikasi Al-Quran Pertama dilakukan pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq, kemudian atas usulan Umar bin Khaththab yang sangat khawatir akan keberlangsungan Al-Quran mengingat banyak penghafal Al-Quran yang ikut perang Yamamah mati syahid. Kodifikasi dipimpin oleh Zaid bin Tsabit dengan mengumpulkan catatan ayat-ayat dari para sahabat Nabi yang telah ditulis di kain, kulit, tulang, dan batu. Ini adalah kodifikasi lengkap Al-Quran resmi yang pertama. Dan buku pertama dalam bahasa Arab!. Hasil kodifikasi ini kemudian disimpan oleh Abu Bakar RA sampai wafat yang kemudian disimpan oleh Umar RA sampai wafat dan lalu disimpan oleh Hafsah (anak Umar dan juga salah satu istri Nabi SAW).
Penggandaan Al-Quran & Pendistribusian dilakukan pada masa Khalifah Utsman bin Affan, Islam telah tersebar sampai Bizantium dan Iran. Penggandaan Al-Quran & pendistribusian berikutnya dilakukan oleh Huzaifah bin Yaman sekembalinya dari peperang di Azerbaijin (25H/645M) melaporkan kepada Utsman RA tentang perselisihan umat Islam di daerah sekitar tersebut tentang perbedaan tata cara membaca Al-Quran. Lalu Utsman RA membentuk panitia yang diketuai Zaid bin Tsabit untuk memperbanyak Al-Quran berdasarkan Kodifikasi Quran yang asli yang dipegang oleh Hafsah dan bila ada perbedaan dalam bacaan harus dituliskan berdasarkan dialek suku Quraisy. Satu kopi dipegang oleh Utsman RA di Madinah dan kopi lainnya dikirim ke Mekah, Syiria, Yaman, Bahrain, Basra, dan Kufa untuk dijadikan standard acuan. Versi-versi yang tidak resmi yang beredar sebelumnya kemudian dimusnahkan atas perintah Utsman RA. Versi Al-Quran Utsman RA ini dikenal dengan Al Mushhaf dimana penulisannya seperti tulisan Arab gundul dan tanpa perbedaan penulisan huruf-huruf yang berbentuk sama.

References:
1 Dr. M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, Mizan, Bandung, 1998, p. 4.
2 Dr. M. Quraish Shihab, “Membumikan” Al-Quran, Mizan, Bandung, 1994, pp. 35-39.

PENELITIAN MUSHAF DI INDONESIA


Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya. (Q.S. 15:9). Upaya pemeliharaan Al-Qur’an tidak hanya dilakukan oleh umat Islam saat ini, tapi juga telah dilakukan oleh Rasulullah dengan menjaga hafalannya hingga wafat. Rasulullah selalu mengulang-ulang hafalannya setiap tahun dengan bimbingan dari Malaikat Jibril.  
Pada saat ini upaya pemeliharaan Al-Qur’an tidak hanya dalam bentuk hafalan, tapi juga dalam bentuk pemeliharaan mushaf Al-Qur’an dari generasi ke generasi. Sebagaimana yang dilakukan oleh Puslitbang Lektur Keagamaan Balitbang dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI. Penelitian mushaf ini bertema “Sejarah Perkembangan Penulisan Mushaf Al-Qur’an di Nusantara” tahap I yang dilaksanakan di 13 propinsi tahun 2003. Penelitian ini berangkat dari temuan sebelumnya bahwa penulisan mushaf Al-Qur’an di Indonesia telah dimulai sejak empat abad yang lalu. mushaf yang dianggap tertua ditulis oleh seorang ulama al-faqih al-shalih ‘Afifudin Abdul Baqi bin ‘Abdullah al-‘Adni, bertahun 1585 M, di Wapanwe, Kaitetu, dan oleh seorang bernama Nur Cahya (tahun 1590 M) yang menyelesaikan penulisan mushaf di pegunungan Wawane, Ambon. Abad ke-16 itu merupakan awal pertumbuhan penulisan mushaf Al-Qur’an di Indonesia. Beberapa naskah al-Qur’an kuno juga dijumpai di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Bali dan Sebagainya.  
Hingga saat ini belum ada buku monografi yang memaparkan sejarah penulisan mushaf Al-Qur’an dari masa ke masa. Demikian pula belum banyak diketahui biografi penulisnya dan tempat mushaf-mushaf tersebut di tulis. Penelitian ini bertujuan: pertama, mengetahui perkembangan penulisan mushaf Al-Qur’an di Indonesia. Kedua, Menginventarisasi, mengidentifikasi, dan mengkaji naskah-naskah mushaf Al-Qur’an di Indonesia. Ketiga, mengetahui penulis, pemrakarsa, dan pendukung penulisan mushaf di Indonesia dan mengetahui tipologi rasm, kaligrafi dan iluminasinya.  Penelitian mushaf Al-Qur’an ini dilakukan secara bertahap, pada tahap pertama penelitian di lakukan pada tahun 2003, mencakup 13 wilayah penelitian dengan hasil temuan sebagai berikut:  
No.PropinsiJumlah Judul Naskah
1Banten5 naskah
2DI Jogyakarta9 naskah
3Jawa Barat4 naskah
4Jawa Tengah21 naskah
5Jawa Timur57 naskah
6Kalimantan Selatan1 naskah
7Sumatera Selatan10 naskah
8NTB15 naskah
9Sumatera Barat3 naskah
10Riau10 naskah
11Sumatera Utara1 naskah
12Kalimantan Timur10 naskah
13Sulawesi Selatan15 naskah
 Jumlah161 naskah
Dari pengkajian terhadap 161 mushaf Al-Qur’an di atas, tim peneliti berhasil mendapatkan beberapa penemuan sebagai berikut: Pertama, keadaan naskah-naskah Al-Qur’an yang ditemukan pada umumnya kurang terawat, sehingga kertas naskah sudah banyak yang lapuk dan dimakan rayap, serta sulit untuk dibaca. Pada umumnya naskah sudah tidak utuh lagi, terutama pada beberapa halaman awal dan ahir. Para petugas museum dan ahli waris nampaknya belum memahami bagaimana cara merawat dan menyimpan naskah mushaf dengan baik. Dari naskah-naskah Al-Qur’an yang ditemukan, hanya sebagian kecil yang mempunyai kolofon, walaupun tidak lengkap, sehingga tidak diketahui siapa penulisnya, pemesannya, serta tahun penulisannya. Untungnya sebagian besar naskah ditulis di atas kertas Eropa yang memiliki cap kertas, sehingga dapat memberi petunjuk tentang perkiraan usia naskah.   
Kedua, naskah-naskah yang ditemukan hanya sebagian kecil yang ditulis dengan Rasm Utsmani. Selebihnya ditulis dengan Rasm imla’i. Sistem penulisannya nampak beragam, ada yang dengan sistem pojok, dan ada yang tidak. Ada yang setiap awal Juz dimulai pada awal halaman, dan adapula yang tidak diatur sama sekali.  
Ketiga, penelitian ini juga menemukan bahwa semua naskah terdapat kesalahan dan ketertinggalan (kekurangan) dalam menulis teks ayat. Terjadinya kesalahan atau ketertinggalan dalam penulisan teks ayat menjelaskan bahwa penulisan mushaf tersebut tidak melalui proses pentashihan. Kesalahan tersebut ada yang diperbaiki langsung dengan cara menambah kalimat di tepi luar halaman teks, atau di sela-sela baris, dan ada yang tidak diperbaiki.  
Keempat, kaligrafi yang digunakan sangat sederhana, dan penulisnya belum dapat di kategorikan sebagai penulis Arab yang baik (Khattat). Namun semua tulisannya cukup konsisten, dilihat dari besar tulisan, kerapatan, maupun gayanya. Gaya kaligrafi yang digunakan untuk nash Al-Qur’an adalah naskhi, kepala surah dan tulisan juz menggunakan sulusnaskhi, dan “kaligrafi floral”, yakni gaya tradisional khas yang dikembangkan secara lokal.  
Kelima Iluminasi Mushaf pada umumnya terdiri atas tiga bagian:1.      Iluminasi pada Ulumul Qur’an, Nisful Qur’an dan Khatmul Qur’an2.     Iluminasi pada kepala-kepala surat (‘unwan) dan3.      Iluminasi pada pinggir halaman, untuk tanda-tanda JuzNisfHizbNisfu Hizb dan lain-lain. Masing-masing bagian iluminasi tersebut dilukis dengan tingkat intensitas berbeda-beda, ragam hias yang digunakan pada umumnya adalah floral (tumbuh-tumbuhan), dan ada pula yang menggunakan sketsa binatang (Sumatera Barat dan Sumedang).  Berdasarkan temuan mushaf tertua bertahun 1585 M dari Ambon, diperkirakan bahwa abad ke-16 merupakan awal pertumbuhan penulisan mushaf Al-Qur’an di Indonesia. Ulama-ulama di berbagai tempat lain di Indonesia diperkirakan juga melakukan hal yang sama, karena naskah-naskah Al-Qur’an kuno juga di jumpai di pulau-pulau lain; Jawa, Nusa Tenggara, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi sebagaimana data di atas. (sir) 

"Sudahkah kita membaca Alqur'an hari ini?
Berapa kali dalam sebulan kita mengkhatam Al qur'an."
( Khairukum man ta'allamal qur'an wa 'allamah).
SOMEDAY IS TODAY, DO IT NOW OR NEVER

TIPS OF THIS DAY
“Didiklah anakmu dengan 3 perkara: mencintai Allah, mencintai Rasul dan belajar Al-Qur’an” (Al-hadits)