Rabu, 04 Januari 2012

Fungsi Hizb Dalam Al-Qur'an


Berikut artikel tentang cara mengenali sistem penandaan dalam halaman al-Qur’an khususnya cara untuk mengetahui permulaan setiap kisah/cerita dalam al-Qur’an. Sebagaimana yang diketahui :

  • 1 Al-Qur'an = 30 Juz,
  • 1 Juz = 2 Hizb,
  • 1 Hizb = 4 Maqra’ (pecahan 1/4 hizb , 1/2 hizb) , 3/4 hizb dan 1 hizb penuh),
  • 1 Al-Qur’an = 240 Maqra’ @ pecahan,

Al-Quran mempunyai 30 juz. Setiap juz mempunyai 2 Hizb dan setiap Hizb pula mempunyai 4 pecahan atau maqra’. Paling mudah untuk tahu ada perkataan hizb ( حزب). Kerapkali anda akan berjumpa dengan tanda, 1/4, 1/2, 3/4 dan hizb penuh. Apabila anda menjumpai hizb itu (selalu berada di luar kotak ayat), yang bermakna/merupakan tanda yang menunjukkan permulaan kisah atau cerita yang baru. Sebagai contoh, ayat 123 surah Al-Baqarah dan sebelumnya menceritakan tentang perihal Bani Israel. Petunjuk hizb: tedapat tanda bunga selepas ayat 123. Bermula ayat 124 surah yang sama, Allah menceritakan pula tentang kisah nabi Ibrahim dan Ismail.

Kita biasanya akan berhenti membaca Al-Qur’an mengikut surah atau halaman. Sebaiknya berhenti pada setiap عatau maqra’ hizb.

Apa yang baik itu datangnya dari ALLAH, dan buruk itu datangnya dari saya sendiri walaupun hakikatnya, kedua-duanya datang dari-Nya. WALLAHualam Bis Sowwab. Moga manfaatnya diperoleh oleh kita bersama. InsyaALLAH…  

Juni 2012 MTQ Nasional di Gelar di Maluku


JAKARTA -- Musabakah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional, tetap digelar di Maluku. Ketegangan di Ambon beberapa waktu lalu tidak menyurutkan niat pemerintah pusat, maupun pemerintah Maluku untuk menggelar kegiatan akbar tersebut. MTQ disepakatai pemerintah pusat dan pemerintah Maluku, digelar pada 9 Juni 2012 mendatang. 

Sejumlah rangkaian kegiatan mulai dilakukan. Mulai dari koordinasi dengan pemerintah pusat, maupun persiapan peserta MTQ yang akan diikutkan mewakili provinsi Maluku. Selasa (20/12) kemarin, Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu, Kepala LPTQ Maluku, Rahman Soumen, melakukan rapat koordinasi dengan Mekokesra, Agung Laksosno, Menteri Agama Nasarudin Umar, Sekjen Menteri Agama Bahrul Hayat, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, dan Kapolri Timor Pradopo. 

Rapat digelar di Kementerian Kesra di Jakarta. Rapat tersebut menyimpulkan,MTQ tetap digelar di Maluku, semua jajaran mendukung penuh kegiatan tersebut tetap berlangsung. Kapolri dan Panglima berkomitmen akan membeckup kegiatan tersebut dari gangguan keamanan, seperti yang sering terjadi belakangan ini.

“Kami (Polisi dan TNI) akan membeckup, sehingga dengan kondisi keamanan yang tercipta, kegiatan MTQ bisa berjalan dengan baik,” kata Kapolri.

Dalam dua bulan sekali, polisi dan TNI akan mengevaluasi keamanan di Maluku, khususnya Kota Ambon. Sehingga pada rapat tersebut, juga disepakati agar Gubernur Maluku dan jajarannya tetap melakukan persiapan untuk pelaksanaan MTQ.

Sementara Menteri Agama Surya Dharma Ali juga merespon positif kegiatan tersebut. Dia juga mengimbau agar masyarakat Ambon dapat menjaga keamanan secara bersama-sama dengan aparat keamanan, sehingga MTQ nantinya berjalan lancar dan aman.

Beberapa agenda acara bahkan sudah dirancang, di antaranya, MTQ akan dibuka secara resmi langsung oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, pada 9 Juni 2011 mendatang. Besoknya SBY akan mengunjungi Pulau Banda. Kegiatan ini sendiri akan berlangsung selama 10 hari, dan akan ditutup oleh Wakil Presiden RI, Boediono.

Gubernur Maluku menyambut baik respon dari pemerintah pusat. Menurutnya ini merupakan kepercayaan yang diberikan kepada Maluku untuk menggelar kegiatan tersebut. Dia berkomitmen akan menjadi Maluku bukan hanya sebagai tuan rumah yang sukses, tapi juga mampu menyumbangkan prestasi dalam berbagai mata lomba MTQ, seperti hafiz Qur’an, Tilawah dan lainnya.

“Kami akan berupaya maksmimal, untuk keluar sebagai juara umum, bukan hanya sebagai penyelenggara kegiatan yang sukses. Kami sementara menyiapkan qori dan qori’a terbaik, yang bisa keluar sebagai juara,” kata Karel, usai pertemuan.

Sehingga dia mengimbau masyarakat Maluku untuk menjaga keamanan, bukan hanya untuk penyelenggaraan MTQ semata, tapi keamanan yang bisa tercipta secara abadi. Karena MTQ merupakan kegiatan berskala nasional, dan dipercayakan digelar di Maluku.

“Kondisi keamanan sangat penting, sebagai kepala pemerintahan di Maluku, saya berharap agar masyarakat Maluku bisa menjaga keamanan secara bersama. Jika kondisi keamanan baik, tentu MTQ juga akan berjalan dengan lancar,” pintanya.

Dia mengatakan, ini merupakan kegiatan keagamaan yang kebanyakan digelar wilayah Indonesia Barat dan tengah, kini dipercayakan digelar di Indonesia Timur, dan daerah yang ditunjuk adalah Maluku. “Jangan kita sia-siakan kepercayaan ini. Ini merupakan kesempatan emas untuk masyarakat Maluku, karena bukan hanya sebagai sarana penyaluran bakat belaka, tapi juga sebagai media untuk mengangkat harkat masyarakat Maluku di mata nasional bahkan manca negara. Dan manfaatnya, bukan hanya manfaat religiutas saja, tapi juga manfaat ekonomi, pariwisata, dan banyak lagi,” urai Karel.

Usai pertemuan di Menko Kesra, pertemuan dilanjutkan di Hotel Grend Hiyat Jakarta. Yang hadir adalah, Kepala Kantor Wilayah Agama Maluku, M. Atamimi, Kepala Taman Seni Baca Alqur’an, Ustat Sanusi (salah satu Imam mesjid Alfatah), dan juga Mantan Menteri Agama RI, Prof. Dr. H Said Agil Husin Al Munawar yang diundang khusus. 

Pemerintah Maluku sepakat untuk menggunakan jasa mantan menteri Agama Prof Said, untuk mendidik dan membimbing qori dan qori’a yang akan tampil di MTQ. Prof Said mengatakan, dia akan berupaya maksimal untuk memberikan ilmunya kepada peserta dari Maluku yang akan dibimbing. “Saya akan dibantu beberapa teman, kami akan melakukan pembimbingan kepada peserta dari Maluku, sehingga Maluku bisa keluar sebagai juara umum, bukan sekedar penyelenggara yang sukses,” kata Prof Said, kepada Ambon Ekspres.

Dia mengatakan, pembimbingan akan dilakukan di Ambon dan di Jakarta. Pihaknya akan berangkat ke Ambon dan melihat potensi masing-masing qori-qori’a, dan memutuskan siapa yang dibimbing di Jakarta, dan siapa yang tetap saja dibimbing di Ambon. Peserta juga merupakan orang Maluku, bukan qori yang diambil dari luar Maluku. Dipredisksi proses pembimbingan kemungkinan berlangsung selama satu bulan, sebelum MTQ digelar, akan digunakan tekhnik-tekhnik khusus dalam pembingan sehingga potensi peserta saat MTQ keluar secara maksimal, dan tidak canggung, atau gugup. 

Prof Said juga mengimbau kepada masyarakat Maluku untuk selalu menjaga keamanan secara bersama, dengan aparat keamanan. Sehingga kehidupan kerukunan umat beragama berjalan lancar. “Maluku punya sejarah konflik, dan kembali akur dalam waktu yang relatif singkat. Sebetulnya toleransi umat beragama di Maluku sangat tinggi, ini harus dipelihara sehingga masyarakat hidup tenang, aman dan berdampingan,” imbaunya.

Sementara itu ustat Sanusi mengatakan, berharap peserta yang akan tampil nantinya dapat mengharumkan nama Maluku di MTQ. Dia menjelaskan, dalam pembimbingan peserta MTQ, tidaks erta merta hasil MTQ tingkat Provinsi Maluku yang digelar di Dobo beberapa bulan lalu mewakili Maluku. Namun peserta-peserta terbaik dari hasil di Dobo, dibimbing lagi oleh mantan menteri agama, dan tim di Maluku, untuk diikutkan. 

“Intinya kami akan lakukan maksimal agar Maluku tampil terbaik, sehingga hasil di Dobo itu tidak secara otomatis langsung mewakili Maluku, tapi mereka akan dibimbing lagi,” jelasnya. (fik/fmc) 

Sejarah Singkat Al-Quran.


Pendahuluan.
Al-Quran adalah kitab suci yang berisi firman-firman Allah Swt yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. Pemakaian nama Al-Quran dinukilkan dari surat Al-Qiyaamah ayat 17 dan ayat 18. Al-Quran terdiri dari 114 Surat, 6.236 Ayat (sebagian ulama mengatakan 6666 ayat), 77.439 kata, 74437 kalimat dan 323.015 huruf (ada juga yang mengatakan 325345 huruf) yang diturunkan dalam kurun waktu 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari [1]. Pada masa prakedatangan Islam, bangsa Arab mencapai puncak kejahiliyahannya. Namun demikian di sisi lain, bangsa Arab terkenal dengan keindahan puisi-puisi dan keelokan pidato mereka. Bahasa Arab merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan mereka. Namun budaya yang berkembang pada saat itu lebih pada budaya lisan/oral ketimbang budaya baca-tulis. Tak mengherankan bila sebagian besar mereka buta huruf. Kendatipun begitu, bangsa Arab mempunyai daya ingat yang sangat kuat. Untuk memelihara danmeriwaytkan syair-syair Arab, silisah keturunan mereka, peperangan yang terjadi, dan peristiwa lainnya, mereka hanya mengandalkan daya ingat dan hapalan semata.

Sejarah Singkat Turunnya Al-Quran.

Wahyu pertama turun pada saat Nabi SAW berusia 40 tahun di saat beliau sedang bermeditasi di Gua Hira (17 Ramadhan). Wahyu berikutnya turun 3 tahun kemudian. Urut-urutan Surat yang terdapat dalam Al-Quran bukan berdasarkan urutan turunnya ayat-ayat tersebut.
Surat pertama yang diwahyukan adalah Al-‘Alaq (QS: 96) dan yang turun terakhir adalah An-Nasr (QS: 110), sedangkan ayat terakhir yang diturunkan adalah ayat 3 dari surat Al-Maaidah. Sedangkan surat pertama yang terdapat dalam Al-Quran adalah Al- Fatihah (QS: 1) dan yang terakhir An-Nas (QS: 114).

Urutan-urutan dalam Al-Quran tersebut semata-mata berdasarkan petunjuk dari Allah SWT kepada Nabi SAW. Al-Quran diturunkan tidak secara sekaligus tapi secara berangsur-angsur. Di Mekah selama 13 tahun dan di Madinah 10 tahun. Terbagi menjadi ayat-ayat Makkiyyah (19/30 = 86 surat) dan Madaniyyah (11/30 = 28 surat)

Periodisasinya sbb [2] :
Periode Mekah I (4-5 tahun): Dakwah Islam masihdalam ruang lingkup yang kecil. Belum begitu banyak resistansi. Ayat-ayat yang turun umumnya tentang (i) pelajaran bagi Rasulullah dalam membentuk kepribadiannya, (ii) pengetahuan dasar tentang sifat-sifat Allah, (iii) keterangan tentang dasar-dasar akhlak islamiyah dan bantahan tentang pandangan hidup masyarakat jahiliyah saat itu.
Periode Mekah II (8-9 tahun): Dakwah Islam mulai terbuka. Oposisi terhadap Islam dari penduduk Mekah mulai terbentuk untuk menghalangi dakwah. Ayat-ayat yang turun umumnya tentang (i) kewajiban prinsipal penganutnya, (ii) kecaman & ancaman kepada kaum musyrik yang berpaling dari kebenaran, (iii) argumentasi tentang keesaan Tuhan dan kepastian hari kiamat.
Periode Madinah (10 tahun): Masyarakat Islam mulai terbentuk di Madinah setelah Nabi SAW hijrah dari Mekah. Selain oposisi dari jahiliyah Mekah, warga Yahudi di Medinah yang semula berikrar untuk hidup berdampingan dengan Muslim juga mulai menghalangi-halangi dakwah Nabi SAW.
Pada masa Nabi SAW, kertas seperti yang kita kenal sekarang belum lagi sampai ke Jazirah Arab, walaupun sudah ditemukan di Cina. Karena Nabi SAW tidak bisa membaca dan menulis, pada saat turunnya wahyu, Nabi SAW langsung menyampaikan wahyu tersebut kepada sahabat-sahabatnya. Para sahabat kemudian menghafalnya di luar kepala dengan bimbingan Nabi SAW. Beberapa sahabat yang pandai menulis selain diminta menghafal juga diminta untuk menuliskan di media tulis kayu, batu, kain, kulit, dsb. Untuk menjaga kemurnian Al-Quran ini setiap tahun Malaikat. Jibril akan mengulang hafalan Al-Quran bersama Nabi SAW. Pada tahun terakhir menjelang ajalnya, bahkan Jibril bersama Nabi SAW mengulang hafalan tersebut dua kali.
Masa Para Khalifah, kodifikasi Al-Quran Pertama dilakukan pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq, kemudian atas usulan Umar bin Khaththab yang sangat khawatir akan keberlangsungan Al-Quran mengingat banyak penghafal Al-Quran yang ikut perang Yamamah mati syahid. Kodifikasi dipimpin oleh Zaid bin Tsabit dengan mengumpulkan catatan ayat-ayat dari para sahabat Nabi yang telah ditulis di kain, kulit, tulang, dan batu. Ini adalah kodifikasi lengkap Al-Quran resmi yang pertama. Dan buku pertama dalam bahasa Arab!. Hasil kodifikasi ini kemudian disimpan oleh Abu Bakar RA sampai wafat yang kemudian disimpan oleh Umar RA sampai wafat dan lalu disimpan oleh Hafsah (anak Umar dan juga salah satu istri Nabi SAW).
Penggandaan Al-Quran & Pendistribusian dilakukan pada masa Khalifah Utsman bin Affan, Islam telah tersebar sampai Bizantium dan Iran. Penggandaan Al-Quran & pendistribusian berikutnya dilakukan oleh Huzaifah bin Yaman sekembalinya dari peperang di Azerbaijin (25H/645M) melaporkan kepada Utsman RA tentang perselisihan umat Islam di daerah sekitar tersebut tentang perbedaan tata cara membaca Al-Quran. Lalu Utsman RA membentuk panitia yang diketuai Zaid bin Tsabit untuk memperbanyak Al-Quran berdasarkan Kodifikasi Quran yang asli yang dipegang oleh Hafsah dan bila ada perbedaan dalam bacaan harus dituliskan berdasarkan dialek suku Quraisy. Satu kopi dipegang oleh Utsman RA di Madinah dan kopi lainnya dikirim ke Mekah, Syiria, Yaman, Bahrain, Basra, dan Kufa untuk dijadikan standard acuan. Versi-versi yang tidak resmi yang beredar sebelumnya kemudian dimusnahkan atas perintah Utsman RA. Versi Al-Quran Utsman RA ini dikenal dengan Al Mushhaf dimana penulisannya seperti tulisan Arab gundul dan tanpa perbedaan penulisan huruf-huruf yang berbentuk sama.

References:
1 Dr. M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, Mizan, Bandung, 1998, p. 4.
2 Dr. M. Quraish Shihab, “Membumikan” Al-Quran, Mizan, Bandung, 1994, pp. 35-39.

PENELITIAN MUSHAF DI INDONESIA


Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya. (Q.S. 15:9). Upaya pemeliharaan Al-Qur’an tidak hanya dilakukan oleh umat Islam saat ini, tapi juga telah dilakukan oleh Rasulullah dengan menjaga hafalannya hingga wafat. Rasulullah selalu mengulang-ulang hafalannya setiap tahun dengan bimbingan dari Malaikat Jibril.  
Pada saat ini upaya pemeliharaan Al-Qur’an tidak hanya dalam bentuk hafalan, tapi juga dalam bentuk pemeliharaan mushaf Al-Qur’an dari generasi ke generasi. Sebagaimana yang dilakukan oleh Puslitbang Lektur Keagamaan Balitbang dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI. Penelitian mushaf ini bertema “Sejarah Perkembangan Penulisan Mushaf Al-Qur’an di Nusantara” tahap I yang dilaksanakan di 13 propinsi tahun 2003. Penelitian ini berangkat dari temuan sebelumnya bahwa penulisan mushaf Al-Qur’an di Indonesia telah dimulai sejak empat abad yang lalu. mushaf yang dianggap tertua ditulis oleh seorang ulama al-faqih al-shalih ‘Afifudin Abdul Baqi bin ‘Abdullah al-‘Adni, bertahun 1585 M, di Wapanwe, Kaitetu, dan oleh seorang bernama Nur Cahya (tahun 1590 M) yang menyelesaikan penulisan mushaf di pegunungan Wawane, Ambon. Abad ke-16 itu merupakan awal pertumbuhan penulisan mushaf Al-Qur’an di Indonesia. Beberapa naskah al-Qur’an kuno juga dijumpai di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Bali dan Sebagainya.  
Hingga saat ini belum ada buku monografi yang memaparkan sejarah penulisan mushaf Al-Qur’an dari masa ke masa. Demikian pula belum banyak diketahui biografi penulisnya dan tempat mushaf-mushaf tersebut di tulis. Penelitian ini bertujuan: pertama, mengetahui perkembangan penulisan mushaf Al-Qur’an di Indonesia. Kedua, Menginventarisasi, mengidentifikasi, dan mengkaji naskah-naskah mushaf Al-Qur’an di Indonesia. Ketiga, mengetahui penulis, pemrakarsa, dan pendukung penulisan mushaf di Indonesia dan mengetahui tipologi rasm, kaligrafi dan iluminasinya.  Penelitian mushaf Al-Qur’an ini dilakukan secara bertahap, pada tahap pertama penelitian di lakukan pada tahun 2003, mencakup 13 wilayah penelitian dengan hasil temuan sebagai berikut:  
No.PropinsiJumlah Judul Naskah
1Banten5 naskah
2DI Jogyakarta9 naskah
3Jawa Barat4 naskah
4Jawa Tengah21 naskah
5Jawa Timur57 naskah
6Kalimantan Selatan1 naskah
7Sumatera Selatan10 naskah
8NTB15 naskah
9Sumatera Barat3 naskah
10Riau10 naskah
11Sumatera Utara1 naskah
12Kalimantan Timur10 naskah
13Sulawesi Selatan15 naskah
 Jumlah161 naskah
Dari pengkajian terhadap 161 mushaf Al-Qur’an di atas, tim peneliti berhasil mendapatkan beberapa penemuan sebagai berikut: Pertama, keadaan naskah-naskah Al-Qur’an yang ditemukan pada umumnya kurang terawat, sehingga kertas naskah sudah banyak yang lapuk dan dimakan rayap, serta sulit untuk dibaca. Pada umumnya naskah sudah tidak utuh lagi, terutama pada beberapa halaman awal dan ahir. Para petugas museum dan ahli waris nampaknya belum memahami bagaimana cara merawat dan menyimpan naskah mushaf dengan baik. Dari naskah-naskah Al-Qur’an yang ditemukan, hanya sebagian kecil yang mempunyai kolofon, walaupun tidak lengkap, sehingga tidak diketahui siapa penulisnya, pemesannya, serta tahun penulisannya. Untungnya sebagian besar naskah ditulis di atas kertas Eropa yang memiliki cap kertas, sehingga dapat memberi petunjuk tentang perkiraan usia naskah.   
Kedua, naskah-naskah yang ditemukan hanya sebagian kecil yang ditulis dengan Rasm Utsmani. Selebihnya ditulis dengan Rasm imla’i. Sistem penulisannya nampak beragam, ada yang dengan sistem pojok, dan ada yang tidak. Ada yang setiap awal Juz dimulai pada awal halaman, dan adapula yang tidak diatur sama sekali.  
Ketiga, penelitian ini juga menemukan bahwa semua naskah terdapat kesalahan dan ketertinggalan (kekurangan) dalam menulis teks ayat. Terjadinya kesalahan atau ketertinggalan dalam penulisan teks ayat menjelaskan bahwa penulisan mushaf tersebut tidak melalui proses pentashihan. Kesalahan tersebut ada yang diperbaiki langsung dengan cara menambah kalimat di tepi luar halaman teks, atau di sela-sela baris, dan ada yang tidak diperbaiki.  
Keempat, kaligrafi yang digunakan sangat sederhana, dan penulisnya belum dapat di kategorikan sebagai penulis Arab yang baik (Khattat). Namun semua tulisannya cukup konsisten, dilihat dari besar tulisan, kerapatan, maupun gayanya. Gaya kaligrafi yang digunakan untuk nash Al-Qur’an adalah naskhi, kepala surah dan tulisan juz menggunakan sulusnaskhi, dan “kaligrafi floral”, yakni gaya tradisional khas yang dikembangkan secara lokal.  
Kelima Iluminasi Mushaf pada umumnya terdiri atas tiga bagian:1.      Iluminasi pada Ulumul Qur’an, Nisful Qur’an dan Khatmul Qur’an2.     Iluminasi pada kepala-kepala surat (‘unwan) dan3.      Iluminasi pada pinggir halaman, untuk tanda-tanda JuzNisfHizbNisfu Hizb dan lain-lain. Masing-masing bagian iluminasi tersebut dilukis dengan tingkat intensitas berbeda-beda, ragam hias yang digunakan pada umumnya adalah floral (tumbuh-tumbuhan), dan ada pula yang menggunakan sketsa binatang (Sumatera Barat dan Sumedang).  Berdasarkan temuan mushaf tertua bertahun 1585 M dari Ambon, diperkirakan bahwa abad ke-16 merupakan awal pertumbuhan penulisan mushaf Al-Qur’an di Indonesia. Ulama-ulama di berbagai tempat lain di Indonesia diperkirakan juga melakukan hal yang sama, karena naskah-naskah Al-Qur’an kuno juga di jumpai di pulau-pulau lain; Jawa, Nusa Tenggara, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi sebagaimana data di atas. (sir) 

Selasa, 03 Januari 2012

Tirai Kebahagiaan


Suasana desa mrecah sedikit memanas oleh politik, banyak yang memutuskan tali persaudaraan hanya karena berbeda politik. Ditengah-tengah suasana ini, ada seorang pemuda yang mengalami suasana panas hatinya, karena menyimpan keinginan menikah, yang masih tertunda. Di siang ini, saat waktu senggang pemuda hitam manis, hidung mancung dan berewok, mengutarakan maksud hatinya, ingin segera menikah dalam waktu dekat ini, di depan  ayahnya yang kepalanya hampir penuh uban.

”sudah siapkah engkau menikah di tengah2  kesibukannmu mengurus MTs yang telah kau rintis 2 tahun ini dan juga kuliahmu yang masih semester 3 ini Di?”Adi kakakku. Nomer 4 dari saudara tertua

“iya ayah, aku sudah siap saya tidak mau menunggu terlalu lama lagi. Sudah 4 ½  tahun kami ditunangkan. Saya hawatir kalau kelamaan pada akhirnya gagal juga. Apalagi akhir-akhir ini sering hadir cobaan yang hampir merusak pertunangan kami. Lebih cepat lebih baik”

“ya sudah kalau sudah mantap, nanti saya akan membicarakan ini ke keluarga tunanganmu di jombang
“terima kasih ayah”

Beberapa hari kemudian, dua pria calon besan berdiskusi. Ayah dan calon besannya

“ anak kita  4 ½  tahun kita tunangkan, semenjak Adi baru menghafalkan alqur’an, Ifa saat itu masih kelas 3 MA. 3 tahun Adi  menghatamkan tahfidznya, kemudian dia kuliah, kini  masih semester 3. Alangkah baiknya kita segera menikahkan mereka  berdua, apalagi Ifa sekarang  sudah selesai kuliahnya” ayahku mengusulkan, Seraya melempar senyum

“ ehem.. maafkan saya sebelumnya, bukan berarti saya menolak . justru saya sangat senang. Akan tetapi…”

“tapi  apa…?”

“Ifa memang selesai kuliahnya jurusan bidan, tapi sekarang masih peraktek di rumah sakit, apakah tidak lebih baik setelah selesai prakteknya.  Menurut peraturan pemerintah saja dia belum punya izin praktek di rumah sendiri sebelum praktek di rumah sakit 2 tahun  terlebih dahulu. Apalagi kita telah sepakat kalau Ifa akan di bawa ke Madura bersama suaminya untuk berjuang di sana ”

“ooo.. tidak apa-apa kiranya belum diperkenannakan, akan tetapi anak saya sudah ingin sekali segera dinikahkan. Anak saya  Tidak enak sama orang2, sudah pada dengar  semua atas pertunangan ini, malu kalau pada akhirnya gagal “
“ya sudah kalau memang demikian , kami sebagai keluarga prempuan ikut saja, tapi kalau bisa jangan terlalu cepat, kami ingin belum punya biaya dalam waktu dekat ini. Sebenarnya kami  sejak dulu merencanakan pernikahan anak gadis kami akan kami nikahkahkan dengan semeriah mungkin”
Akhirnya sepakatlah acara pernikahan akan segera dilaksanakan setengah tahun lagi.

******
Hari berganti mingu, minggu berganti bulan. Sehingga sampailah pada bulan yang ditunggu-tunggu yakni bulan april 2007. Bulan ini merupakan bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh kedua sejoli ini. Seorang pemuda Brewok yang hafal Al-Quran dengan seorang gadis cantik calon bidan. Di Bulan inilah mereka hendak melaksanakan pernikahan mereka yang sudah lama bertunangan. Mereka bertunangan sudah 5 tahun lamanya, selama dalam kurun waktu yang lama ini, mereka disibukkan dengan aktifitas masing-masing. Jadi mereka tidak ada kesempatan untuk bertemu kecuali di hari-hari besar, seperti hari raya. Dalam 1 tahun mereka hanya bertemu2-3 kali

Bayangan keindahan telah lama hinggap di alam semesta pikiran mereka. sebelumnya telah berulang kali rencana pernikahan mereka tertunda. Konon gadis  ini anak pungut, awalnya ibu angkatnya menolak mengasuhnya, karena pada dasarnya hanya ayah angkatnya lah yang berinisiatip memungut keponkannya sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu, gadis ini tumbuh semakin cantik laksana bunga mawar yang telah merekah. Akhirnya gadis ini mendapatkan kasih sayang layaknya anaknya sendiri dari ibu angkatnya. Keindahan mawar yang merona, dan semerbak wangi yang terbawa oleh semilir angin, sampai ke telinga dan hidung sepupu ibu angkatnya. Ia menginginkan sang gadis dijodohkan dengan anaknya yang sedang menghafalkan alquran, tawaran itu diterima dengan lapang dada.

Semenjak pertunangan itu, ibu angkat si gadis telah merencanakan memeriahkan pernikahannya kelak. Kini rencana itu telah berada di ambang pintu. Ribuan undangan yang telah selesai dicetak tinggal di sebarkan. Biaya untuk acara telah terkumpul, bayangan indah menguasai semesta alam pikiran. Namun manusia hanya bisa berencana, selebihnya allah yang menentukan takdirnya.

Kemeriahan yang telah direncanakan dengan matang terhadang musibah yang tak disangka. Ayah si gadis tiba-tiba mengalami sakit. Keluarganya kalang kabut dengan adanya musibah ini. Apalagi penyakitnya semakin hari semakin merongrong kesehatannya, seakan sudah tak ada harapan untuk hidup. Padahal pernikahan itu tinggal beberapa minggu lagi.Semangat yang menggelora kian meredup, rencana yang dirajut dengan rapi terurai begitu saja .

*******
“apa, ayah meninggal?” mas Adi kaget, mendegar penjelasan mbak Ifa lewat telpon seluler.  

Tepat Saat hari H-1 minggu malaikat maut menjemput ajal ayah angkat calon mertua mas Adi, kontan ini membuat kedua belah keluarga berduka. Sungguh teragis memang.

 Menurut kebiasaa orang jawa, bila terjadi seperti seperti ini maka pernikahan harus ditunda 1-2 tahun lagi. Namun perlayaran di lautan cinta mereka di atas kapal  pertunangan telah cukup lama mereka rasakan, apalagi pulau rumah tangga sudah tampak di pelupuk mata. sulit rasanya untuk bersabar lagi hanya karena badai musibah yang menerpa.
Keluarga ke 2 sejoli pun tak tega untuk menunda pernikahan mereka untuk ke sekian kalinya. Hembusan angin saling pengertian membuahkan kesepakatan untuk menikahkan mereka berdua di hari  pencabutan ajal sang ayah angkat oleh malaikat izroil. Yah, tepat hari berduka ini, akan dilaksanakan pula pernikahan dibalut dengan air mata nestapa.
Di depan jasad calon ayah mertua mas adi yang sudah tak bernyawa itu, mereka dinikahkan. Kain tebal haru menyelimuti Susana siang ini. Tanpa tawa gembira yang menemani pernikahan, melainkan kebisingan isak tangis para hadirin hadirat. Pandang setiap pasang mata yang ada, digenangi bening air mata, yang terus mengalir ke pipi masing-masing.

Tak ada ucapan selamat dari mereka, hanya pesan untuk tetap bersabar yang mereka berdua terima. Bukan irama shalawat badar yang  yang menggema seusai ijab qabul, melainkan kalimat tahlil yang membuat bulu kuduk berdiri bersamaan dengan jasad ayah angkat mbak ifa di dalam keranda yang sedang di bawa ke permakaman. Bukan ucapan “selamat menempuh hidup baru yang di ucapkan sanak family. Melainkan ucapan bela sungkawa “yang sabar ya, kami ikut berduka”. Bukan hingar bingar kebahagiaan yang menyanding melainkan kesunyian yang menyelimuti. Dramatis memang.

Acara yang direncanakan dimeriahkan secaara besar-besaran dalam 1 hari allah menakdirkan 7 hari berturut-turut ramai dengan bacaan tahlil dan yasin. Para undangan yang hendak hadir ke acara walimatul ‘arusy berubah menjadi acara  kirim doa ke almarhum . namun tahukah kawan kedua pasutri ini tampak sabar menerimanya . sungguh jarang ada orang yang seperti mereka . benarlah sudah bahwa allah tidak akan member cobaan yang tidak bisa di emban oleh hambanya
Waktu terus berjalan sampai beberapa bulan kemudian bahkan sampai punya anak  satu , namun keadaan mereka , hubungan mereka masih diuji oleh yang maha kuasa. Mereka belum bisa menikmati kebersamaan selayaknya suami istri yang baru, alias kemanten baru. Karena sang suami masih kerap harus meninggalkan istrinya di jombang demi kuliahnya  yang belum selesai di Madura , serta demi Mts yang dirintisnya. namun sang istri tetap rela dan ikhlas menjalaninya sungguh pasangan yang ideal, romantic dan saling pengertian . mereka menghadapi hidup ini dengan senyuman
Setelah  2 tahun dari pernikahan barulah mereka bisa hidup tentram, tentram ,damai, tentunya sangat bahagia kawan tanpa berpisah lagi. Kini kedua inan yang saling  mencintai ini telah berhasil memproduksi 2 jagoan mereka . kedua jagoan inilah yng kelak diharpakn menjadi seorang yang tangguh

by; khoiron mahmud

"Sudahkah kita membaca Alqur'an hari ini?
Berapa kali dalam sebulan kita mengkhatam Al qur'an."
( Khairukum man ta'allamal qur'an wa 'allamah).
SOMEDAY IS TODAY, DO IT NOW OR NEVER

TIPS OF THIS DAY
“Didiklah anakmu dengan 3 perkara: mencintai Allah, mencintai Rasul dan belajar Al-Qur’an” (Al-hadits)