Selasa, 24 Agustus 2010

Sugiarti, Sembilan Tahun Menjadi 'Pemulung' Alquran

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA--Setiap kita mendengar kata pemulung, sering identik dengan tempat sampah. Berbeda dengan Sugiarti (52), yang mengaku bekerja sebagai `pemulung', namun tidak berurusan dengan sampah yang kotor, malah ia bergelut dengan Kitab Suci Alquran.

Perempuan yang akrab dipanggil Bu Sugi ini bekerja sebagai tukang membersihkan dan merapikan Alquran di Kompleks Pemakaman Sunan Ampel. Setiap hari ada ribuan kitab Alquran yang dipungutnya seorang diri.

"Saya ini pekerjannya pemulung, tapi yang saya pulung bukan sampah, yang saya pulung Alquran, bekas digunakan para peziarah," tutur Bu Sugi. Menurut dia, meskipun para peziarah telah mengembalikan Alquran ke lemari, namun keadaannya kurang rapi. Dengan alasan itu Bu Sugi rela untuk merapikan dan membersihkannya.

Dia mengaku telah sembilan tahun menjadi pembersih Alquran. Dan selama itu pula tidak mengaharapkan upah. "Saya ya dapat tugas seperti ini, saya lakukan dengan sabar dan ikhlas karena Allah, Kalau enggak begitu, pasti sudah marah terus melihat orang yang tidak merapikan Alquran," paparnya.

Untuk kebutuhan sehari-hari, Bu Sugi sering mendapatkannya dari para peziarah. Meskipun ia tidak pernah mengaharap dan meminta. Namun, para peziarah, khususnya yang rutin datang, kerap memberinya oleh-oleh.

"Ada yang memberi kopi, gula, makanan, bahkan handphone. Saya sampai tidak habis pikir, tapi alhamdulillah ini semua rezeki dari Allah,“ ceritanya. Ia hanya beristirahat waktu shalat. Pekerjaannya akan semakin berat jika ada rombongan peziarah dari luar kota.

Namun Bu Sugi selalu bisa membersihkan dan merapikan Alquran berapapun jumlahnya. Kini banyak orang yang menyebutnya mirip dengan Mbah Soleh, yang bertugas membersihkan masjid ketika masa hidupnya Sunan Ampel. Banyak yang bilang, kalau dulu Sunan Ampel bilang, ‘‘Wah kalau ada Mbah Soleh pasti masjidnya bersih’’, sekarang orang-orang bilang, ‘’Wah kalau ada Bu Sugi pasti Alquran-nya rapi”.

Selasa, 20 Juli 2010

Menghafal Al-Quran Bisa Bikin Gila?

http://www.eramuslim.com/oase-iman/anung-umar-menghafal-al-quran-bisa-bikin-gila.htm
Selasa, 20/07/2010 06:25 WIB
Oleh Anung Umar

Pernahkah terlintas dalam pikiran anda pertanyaan di atas? Atau dari saudara-saudara anda? Kalau saya pribadi, terus terang belum pernah. Lho, kalau begitu pertanyaan itu fiktif dong? Tidak juga, pertanyaan tadi muncul dari mulut teman saya. Lho kok bisa?
Ceritanya begini, sekitar enam tahun lalu teman saya pergi menuntut ilmu syar'i ke sebuah pondok pesantren di luar jawa, tepatnya di suatu kota besar di Sulawesi. Dia pergi dengan tekad dan semangat yang membumbung tinggi untuk menggapai ilmu sebanyak-banyaknya. Akan tetapi ketika baru saja menginjakkan kakinya di pondok pesantren itu, semangatnya langsung goncang, badannya terasa lemas dan kepalanya terasa pusing. Ada apa? Pondok pesantren sudah bubar? Bangunannya hancur? Atau pesantren lagi diliburkan?
Bukan, bukan, bukan itu semua, ia hanya stress. Stress karena apa? Ia melihat ada santri yang gila! Kemudian ia juga mendengar dari santri lama bahwa sebelumnya ada pula santri yang gila! Makin bertambah stressnya. Bukan hanya itu saja, ia juga mendengar cerita santri di situ bahwa kedua santri yang gila ini termasuk santri yang menonjol dan terkenal cerdas! Teman saya benar-benar stress!
Teman saya ini bertanya kepada santri lama tentang penyebab gilanya si santri itu? Santri lama ini menjawab kalau ia tidak mengetahui penyebab gilanya, tapi yang jelas 2 santri gila ini tergolong santri yang menonjol dan cerdas, bahkan santri yang terakhir ini banyak hafalan Al-Qurannya, selain itu ia juga dikenal kuat hafalannya. Pernah suatu hari ia melanggar peraturan pondok, maka ustadz pun memberinya hukuman berupa kewajiban menghafal sekitar 30 hadits, entah berapa lama batas waktu yang diberi ustadz, yang pasti ia hafal semuanya dalam waktu satu malam!
Teman saya tercengang mendengar kehebatan santri "super" itu, ia pun kagum sekaligus takut. Karena Ia berpikir, "Kalau ia yang banyak hafalan Al-Qurannya saja bisa gila, maka apalagi saya yang hafalannya pas-pasan!"Akhirnya ia pun mendatangi ustadz pimpinan pondok untuk mengadukan keresahannya, ia berkata, "Ustadz, apa mungkin orang yang menghafal Al-Quran bisa gila?
Ustadz menenangkannya dengan memberinya faidah dari perkataan Ibnul Qayyim, Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa penyebab menyimpangnya Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani) itu, karena satu dari dua perkara: Suulqashd (rusaknya niat/tujuan) atau Suul'amal (rusaknya amal). Adapun Yahudi menyimpang karena rusaknya niat mereka sedangkan Nashara menyimpang karena rusaknya amal mereka. Teman saya puas dan lega dengan penjelasan ustadz dan hilanglah stressnya lalu ia pun mulai semangat lagi untuk menuntut ilmu.
Mungkin ada yang bertanya, "Lho apa hubungannya antara kerusakan Ahlul Kitab dengan santri gila itu?" Awalnya saya juga kurang mengerti, tapi setelah dipikirkan lebih cermat, ternyata "connect" juga. Perkataan ustadz tadi dengan menyebutkan penjelasan dari Ibnul Qayyim sebenarnya sudah jelas. Memang jawaban ustadz tidak menyebutkan secara gamblang tentang santrinya itu, akan tetapi dari perkataannya secara tersirat bisa dipahami seperti ini, "Sebagaimana Ahlul kitab menyimpang karena rusaknya niat atau amal mereka, maka demikian pula si santri ini bisa seperti itu."
Makanya teman saya tadi berkata kepada saya, "Betul memang jawaban ustadz, kita kan nggak tahu apakah niat dia (santri gila) waktu menghafal Al-Quran bener-bener ikhlas apa nggak, karena mungkin aja ada orang yang belajar agama atau rajin menghafal Al-Quran, eh, rupanya pengen dipuji atau dihormatin orang."
Setuju! Setuju, temanku! Memang benar, orang yang tidak ikhlas itu kalau beramal dengan amalan yang ringan walaupun sedikit saja, rasanya berat sekali, sebaliknya orang yang ikhlas, ketika beramal dengan amalan yang berat akan terasa ringan bahkan menkmatinya. Selain itu, orang yang tidak ikhlas dalam beramal ketika ia tidak mendapatkan imbalan duniawi atas amalannya, apakah itu pujian, sanjungan atau penghormatan, ia merasa gelisah dan sesak dadanya, sebaliknya orang yang ikhlas, ketika ia sedang beramal atau sesudahnya, ia tetap tenang, khusyu dan lapang dadanya, baik ada pujian yang ia dengar maupun tidak.
Mungkin ada yang bertanya dan ini memang terjadi, "Saya pernah berdzikir sebanyak ribuan kali pada suatu malam dan saya ikhlas, insya Allah, tapi kok saya jadi seperti orang gila, tak sadar dengan apa yang saya ucap dan badan saya jadi goyang sendiri tanpa disengaja?"
Kalau kembali kepada penjelasan Ibnul Qayyim tadi, sebenarnya ia tinggal bertanya kepada dirinya sendiri, "Kalau memang niat saya sudah ikhlas dan benar, tapi sudah benarkah amalan saya? Sesuaikah dengan yang dituntunkan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam? Apakah Rasul shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdzikir seperti itu?"
Itulah syarat diterimanya suatu amalan yaitu harus ikhlas niatnya dan benar amalannya (sesuai sunnah Rasul) atau menurut bahasa yang tersirat dari perkataan Ibnul Qayyim tadi, "Tidak rusak niatnya dan tidak rusak amalannya."
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niat Dan setiap orang (akan mendapatkan) apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya (dalam rangka menjalankan ketaatan kepada) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya menuju Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya menuju apa yang ia niatkan." (HR. Bukhori dan Muslim)
"Siapa yang berbuat suatu amalan yang tidak ada padanya perintah dari kami, maka amalan itu tertolak." (HR. Muslim)
Kalau begitu, jika ada yang bertanya kepada kita, "Apakah yang menghafal Al-Quran bisa gila?" Jawab saja dengan tegas dan lantang, "Ya, bagi orang yang tidak ikhlas dalam menghafalkannya atau tidak sesuai dengan apa yang dituntunkan Rasul shallallaahu 'alaihi wasallam!"
Jakarta,7 Sya`baan 1431/19 Juli 2010
umaranung@yahoo.co.id

Alquran Bukan Jimat Bukan Mantera

suarasurabaya.net| Oleh: Zainal Arifin Emka

Ada anak bertanya kepada bapaknya,
“Mengapa Alquran dibaca di depan orang mati?”
“Di mana itu!?”
“Di televisi!”
“Oh, itu sinetron. Itu tontonan, bukan tuntunan!”
“Tapi di berita juga ada. Bahkan ada yang membaca Alquran di depan kuburan! Waktu UAN, teman-temanku juga diajak mengaji di makam!” kata si anak nyaris dalam satu tarikan nafas.

Bapaknya terdiam dalam bingung. Dengan perasaan pedih beliau harus mengakui, masih ada orang yang memperlakukan Alquran sama sekali berbeda dengan tujuan diturunkannya Kitab Suci itu. Ada yang mengutip sebagian ayatnya, membungkusnya, menempelkannya di dinding rumah. Mereka memperlakukan Alquran sebagai jimat penangkal sial.

Memang ada yang membawa muridnya mengaji di depan makam ‘keramat’ untuk memperoleh kemudahan menghadapi ujian. Anak-anak belia itu diajari memperlakukan ayat Alquran seperti mantera.

Ketika televisi memberitakan kematian seseorang, ada tayangan orang membaca Alquran di hadapan si mayit. Kita sedih karena tentu saja Kitab Suci berisi petunjuk itu diperuntukkan bagi yang masih hidup. Bahkan yang masih hidup jiwa dan hatinya. Sama sekali bukan untuk manusia mati.

Alquran memberitahu manusia (yang masih hidup) apa yang harus direnungkannya dan diamatinya. Dengan perenungan, seseorang akan merasakan secara lebih baik makna kesempurnaan, hikmah, ilmu, dan kekuasaan Allah dalam ciptaan-Nya. Dengan cara itu orang segera menyadari bahwa keseluruhan alam semesta adalah sebuah isyarat. Setiap karya Allah menunjukkan pesan-pesan dari penciptanya.

Menggembirakan
Kepada seorang sahabat, saya bertanya: Berapa jumlah TPA? Pertanyaan lewat SMS ini dijawab dengan segera: Jlh tpa d jtm spi 2004 tctt 7.300 u, stri 674.500. Alhmlh! Maksudnya: Jumlah Taman Pendidikan Alquran di Jatim sampai 2004 tercatat 7.300 unit, santrinya 674.500. Alhamdulillah!

Saya menangkap isyarat kebahagiaan dalam jawaban guru TPA itu. Ditemukannya berbagai metodologi baru yang memudahkan belajar membaca Alquran, memang telah menggairahkan banyak orang untuk mempelajari Alquran. Termasuk kalangan lanjut usia.

Fenomena yang juga menggembirakan adalah kian banyaknya pengajian yang jamaahnya membawa terjemah Alquran. Setiap kali ustadz membaca ayat, peserta diminta membaca terjemahnya. Kadang ustadz hanya menyebut nama surat dan nomor ayat, lalu meminta peserta menemukan dan membacanya, peserta lain terjemahnya. Metode itu membuat jamaah lebih bergairah. Boleh jadi karena merasa dilibatkan, dan tentu saja merasa telah menemukan mutiara-mutiara petunjuk perjalanan hidupnya. Maklum, selama ini hanya membaca tanpa paham artinya.

Virus Positif
Kita banyak menyaksikan kegairahan seperti itu di banyak masjid dan pada acara ruhani di TVRI Jawa Timur. Mari kita berdoa semoga virus positif itu segera menyebar cepat ke seluruh nusantara, tanpa ada yang mampu menghalanginya.

Kabar baik itu saya kemukakan untuk mengingatkan bahwa pesona kandungan Alquran memang hanya bisa direguk bila orang memahami isinya. Sayang kalau berpuas diri dengan merasa sudah akan memperoleh pahala dari membacanya saja. Alquran bukan hanya untuk dibunyikan, tapi untuk dipahami isi petunjuknya, dan diamalkan sebagai tuntutan hidup.

Kebiasaan membaca Alquran dan memahami artinya, akan memompa rasa dahaga menyimak kandungannya. Kebiasaan dan kebisaan itu bagus ditanamkan sejak anak-anak masih nyantri di TPA: belajar membaca sekaligus memahami artinya. Anak-anak akan terjaga untuk tetap rajin membaca Alquran saat ia sudah tamat belajar di TPA. Ada kerinduan untuk terus menyimak kandungannya.

Dari sini agaknya kita, para orangtua, harus berani melihat dan menjawab: apakah putra-putri kita tetap membaca Alquran selepas ia lulus dari Sekolah Dasar?!? Para penyelenggara TPA ada baiknya membuat penelitian untuk menjawab pertanyaan yang sama. Jangan takut melihat realitas: boleh jadi anak-anak tak lagi menyimak Alquran sebagai kebutuhan ruhaninya. Ada begitu banyak godaan yang mereka hadapi: PR sekolah, les tambahan, tontonan televisi, dan banyak lagi.

Anak-anak akan mudah mengesampingkan Alquran jika mereka hanya memahami Alquran sekadar sebagai bacaan. Bukan tuntunan yang menenteramkan hati, yang membangunkan gairah hidup, menawarkan solusi masalah, dan memompa rasa percaya diri dalam menghadapi tantangan hidup.

Para orangtua bisa turut menjaga agar anak-anak tidak dininabobokkan anggapan membaca saja sudah mendapat pahala berlimpah. Tidak salah, namun tidak sepenuhnya benar. Tentu saja mengingat kedudukan Alquran sebagai petunjuk. Logikanya sederhana saja: Bagaimana bisa memperoleh petunjuk kalau tidak tahu artinya.

Simaklah beberapa ayat surat Ali Imran 190-191 ini, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Rabb, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Masuk akalkah ayat ini ditujukan kepada orang mati?!?(zae/ydsf/ipg)

Zaenal Arifin Emka: Ketua Stikosa-AWS; Staf Ahli Al Falah

Selasa, 25 Mei 2010

Suatu Kisah Dibalik Menghafal Al Qur'an

Pak Didi, lelaki berusia lebih dari 60 tahun yang nikmat penglihatannya kini sudah diambil kembali oleh Sang Pemilik Sejati ini memang selalu menempati tempat tersebut. Wajar jika pak Didi mendapatkan shaf pertama karena beliau selalu ( sering ) menjadi orang pertama yang hadir di mushola. Terlebih jika sholat subuh, beliaulah yang selalu melantunkan sholawat, membangunkan jamaah lain yang masih terlelap dalam tidurnya. Dan ujung kiri adalah tempat yang paling mudah dijangkau olehnya yang selalu datang dari pintu sebelah kiri, berjalan meraba tembok dan berhenti ketika jangkauan tangannya menyentuh dinding bagian depan.

Pak Didi, pria santun yang beberapa waktu lalu pernah aku tulis kisahnya lantaran rumus 90 langkah menuju mushola nya. Pak Didi yang tetap istiqomah sholat berjamaah di mushola, meskipun untuk sampai di sana beliau harus meraba dan menghitung langkah kakinya karena kedua mata fisiknya tak mampu lagi membedakan gelap dan terang. Bukan, bukan karena tak ada keluarga yang mengantarkan, tapi karena pak Didi lebih senang berangkat ke mushola sendiri ( khususnya untuk sholat Subuh, sedang untuk sholat-sholat lainnya pak Didi sering diantar oleh istri atau cucunya ). Pak Didi yang telah membukakan kesadaranku, memberiku semangat untuk terus sholat berjamaah di mushola. Dan jika kini aku mencoba kembali menulis tentangnya, semua karena ‘hoby’ barunya.

Seminggu terakhir, pak Didi sedang rajin menghafalkan ayat-ayat suci Al Quran. Kalau surah Yaasiin sudah lama beliau hafal. Yang sekarang sedang menarik minatnya untuk dihafalkan adalah surat An Nisaa’ ayat 59–60. Pernah aku bertanya ada apa dengan ayat ini, sehingga beliau tergerak untuk menghafalkannya, apakah ayat-ayat sebelumnya sudah hafal semua ataukah ada pengalaman khusus dengan ayat ini? Dengan tersenyum ramah ( salah satu ciri khasnya ) beliau katakan bahwa sebenarnya ayat-ayat lainnya belum hafal, tapi belaiu tertarik untuk menghafal ayat tersebut lantaran beliau pernah mengikuti sebuah pengajian yang kebetulan membahas ayat tersebut.

Bagaimana pak Didi belajar menghafal, sedangkan membacapun beliau tak bisa?. Adalah Haji Sidik atau terkadang pak Minong yang sering mendampingi pak Didi menghafal, sambil menunggu datangnya waktu Isya. Dan meski sudah tergolong ‘sepuh’, daya ingat pak Didi ternyata masih cukup kuat. Itu kuketahui ketika kemarin malam aku dimintanya untuk mendampingi beliau menghafal surat An Nisa ayat ke-59 dan 60. Kebetulan malam itu hanya ada aku dan pak Didi, jamaah lainnya yang biasa mengaji sudah pada pulang, barangkali ada satu keperluan sehingga mereka baru datang kembali beberapa saat sebelum azan Isya berkumandang. Dua ayat yang cukup panjang ini mampu dihafal pak Didi dengan baik. Aku menyimak hafalan pak Didi sambil membuka Al Quran. Hampir semuanya betul, hanya ada beberapa yang tajwidnya kurang pas ( menurutku ).

Selanjutnya pak Didi minta agar aku membacakan ayat selanjutnya. Dan Subhanallah, hanya beberapa kali kubacakan, pak Didi langsung bisa menghafalnya. Bahkan, secara tak sengaja akupun jadi ikut menghafalkan, meskipun baru satu ayat. Alhamdulillah.

Satu hal yang kudapat dari belajar menghafal bersama pak Didi malam itu. Semangat pak Didi yang menggebu, dan ini membuatku merasa malu. Aku teringat masa kecil di kampung dulu, almarhum Romelan mengajari kami menghafal juz Ama. Hampir semua surat-surat di juz ke-30 berhasil kami hafalkan meskipun baru sebatas hafalan tanpa mengerti arti dan kandungannya. Tapi kini, Astaghfirulloh! Tinggal beberapa surat yang masih kuingat, itupun terbatas pada surat-surat yang biasa kubaca di setiap sholat.



Pernah beberapa waktu yang lalu, aku mencoba menghafalkan kembali surat-surat pendek ditambah dengan artinya. Namun sayang, hafalanku terhenti di surat Al ‘Ashr. ‘Kesibukan’ duniawiku menjadi alasannya. Astaghfirulloh, ampuni aku ya Allah.

Dan malam itu, ketika pak Didi meminta ( tepatnya mengajakku ) menghafal bersama, muncul sebuah keinginan untuk kembali membenahi hafalanku yang dulu. Bukan hanya hafal bacaannya, tapi juga artinya. Dengan mengerti artinya, mudah-mudahan kedepannya bisa memahami kandungannya, insya Allah. Terima kasih pak Didi, kembali untuk kedua kalinya engkau telah membukakan kesadaran sekaligus memberikan semangat padaku. Semoga Allah menetapkan hidayah itu padamu, juga kepadaku. Amin.

abisabila.blogspot.com

Kamis, 13 Mei 2010

Gadis 3 Tahun dari Azerbaijan Hafal Puluhan Surat Al-Qur'an

Seorang gadis cilik asal Azerbaijan, Zahra, yang usianya baru menginjak tiga tahun, telah hafal sekitar 40 surat Al-Qur'an diluar kepalanya dengan bacaan dan tajwid yang fasih.

Ibunda Zahra mengatakan, dirinya sangat heran dengan tingkah polah anaknya yang sejak umur setahun lebih suka meracaukan lafaz-lafaz dan ayat Al-Qur'an, dari pada menyanyi dan racauan khas anak kecil umumnya.

Dikisahkannya, dirinya juga rajin membaca Al-Qur'an semasa mengandung Zahra, juga mendengarkan suara lantunan ayat-ayat suci yang diputar melalui kaset atau cd.

"Sejak Zahra berusia bayi, saya sering membacakan Al-Qur'an dihadapannya. Zahra pun suka mengulangi apa yang saya bacakan," kisah ibunya.

Kini, Ibunda Zahra memasukan anaknya itu ke madrasah hafalan Al-Qur'an di kampungnya. Ia memang bercita-cita untuk memiliki anak yang hafal Al-Qur'an. (AGS/db)

"Sudahkah kita membaca Alqur'an hari ini?
Berapa kali dalam sebulan kita mengkhatam Al qur'an."
( Khairukum man ta'allamal qur'an wa 'allamah).
SOMEDAY IS TODAY, DO IT NOW OR NEVER

TIPS OF THIS DAY
“Didiklah anakmu dengan 3 perkara: mencintai Allah, mencintai Rasul dan belajar Al-Qur’an” (Al-hadits)