Kamis, 04 Juni 2009

Pondok Terpencil Dengan Prestasi Nasional

Di lereng gunung Salak dan Gunung Gedhe, suasana pedesaan yang kental, jauh dari keramaian kota tanpa polusi udara maupun polusi suara, tepatnya di kampung Padurenan, desa Ciburayut, kecamatan Cigombong, kabupaten Bogor, Jawa Barat, akan kita temukan keasyikan sekelompok santri usia 15-30 tahunan, asyik bertadarus al-Qur’an tanpa melihat mushaf. Setelah dekat dan berkumpul dengan mereka yang sedang bertadarusb al-Qur’an itu kita akan mengetahui ternyata mereka adalah para santri hufadz dari salah satu pesantren yang ada di negeri ini. Pondok Pesantren Raudlotul Qur’an(PPRQ). Nama itu diberikan oleh hadlorotussyaikh KH. Mufid Mas’ud (Pendiri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta, untuk pesantren yang diasuh oleh HM. Farhan Usman, dengan program tahasus li tahfidzil Qur’an (Program pokoknya menghafal al-Qur’an).

Meski berada di daerah yang terpencil. Kita akan merasa takjub kala melihat prestasi yang telah diukir oleh PPRQ diusianya yang menginjak tahun ke-23 ini, mereka telah menorehkan berbagai prestasi di tingkat Kabupaten, Propinsi, bahkan Nasional cabang tahfidz (hafalan al-Qur’an) maupun tafsir al-Qur’an bahasa Arab maupun bahasa Inggris.

Keberadaan PPRQ tak bisa lepas dari Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta (PPSPA). Selain pengasuhnya HM. Farhan Usman adalah salah satu alumni PPSPA, beliau juga utusan KH. Mufid Mas’ud (Pendiri PPSPA) untuk menjadi ustadz di Bogor demi pengembangan Islam dan lebih khusus pengembangan penghafalan al-Qur’an.

Kawah candra dimuka bagi calon Hafidz dan Hafidzoh

Memasuki kota Bogor bagi orang luar kota tentu akan bingung mencari PPRQ, sebab memang PPRQ terletak di lereng gunung Salak dan gunung Gedhe dengan udara yang masih sangat sejuk jauh dari kebisingan kendaraan bermotor maupun pengapnya cerobong pabrik dan knapot kendaraan bermotor. KAlau kita ingin sampai ke PPRQ dari kota Bogor kita dengan kendaraan umum kita harus mencari kendaraan Jurusan Cicurug atau Sukabumi. Ketika sampai di stasiun Cigombong kita (dari kota Bogor setelah Lido, masuk kurang lebih 5 kilo meter lagi (bila kita menumpang kendaraan umum dari sini kita bisa langsung naik ojek dan tukang ojek sudah mengenal PPRQ), dari jalan Raya Bogor –Sukabumi pertigaan stasiun Cigombong sampai di Kampung Paduren, Kelurahan Ciburayut, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor jalan sudah diaspal oleh pemda. Sampai di PPRQ kita akan takjub dengan bangunan yang mirip dengan villa dengan pemandangan yang mengasikkan.

Penduduk kampung Padurenan sebagian besar adalah petani tradisioanal. Daerah Padurenan merupakan daeerah yang subur. Seperti pada umumnya masyarakat pedesaan yang masih sederhana, masyarakat PPRQ demikian juga keadaannya. Namun untuk masalah kehidupan beragama mereka sangat religious, bahkan cenderung fanatic. Sebagai contoh sekitar tahun 1987 masyarakat yang mempunyai radio bisa dihitung dengan jari tangan, sampai sekarangpun masjid-masjid di sekitar PPRQ belum mau menggunakan pengeras suara, bukan karena tidak mampu membeli, namun mereka masih berpegang bahwa di masjid tidak boleh ada pengeras suara.

Keadaan masyarakat yang demikian sangat mendukung keberadaan PPRQ yang merupakan ajang penggemblengan santri mutahafidziin (penghafal al-Qur’an) yang butuh ketenangan.

Mengapa harus ke daerah terpencil

Tuhun 1986 ada seorang aghniya’ (orang yang mempuyai kelebihan harta) dan ulam dari Jakarta yang mempunyai perkebunan jeruk datang menghadap KHM. Mufid Mas’ud di PPSPA Yogyakarta. Dan salah satu pembicaraan dan keinginan dari pemilik perkebunan itu adalah menjadikan perkebunannya sebagi perkebunan yang dapat bermanfaat dunia dan akhirat. Pemilik perkebunan menginginkan di kebun iitu didirikan pesantren. Pada prinsipnya Hadlorotussyaikh KHM. Mufid Mas’ud sangat setuju dengan keinginan tersebut.

Tak lama setelah pembicaraan itu, Hadlorotussyaikh KHM. Mufid Mas’ud observasi langsung ke Bogor untuk melihat lahan perkebunan yang dijanjikan itu. Hasil dari observasi dan mengadakan pertimbangan-pertimbangan baik dari segi dhohiriyah maupun bathiniyah, maka Hadlorotussyaikh KHM. Mufid Mas’ud memanggil salah satu santrinya yang bernama Muhammad Farhan diberikan kepercayaan dan tugas untuk menjadi salah satu calon yang akan mengisi jabatan pengasuh di Pesantren Bogor itu. Setengah tidak percaya Muhammad Farhan-pun hanya bisa sami’na wa atho’na dengan perintah Hadlorotussyaikh KH M. Mufid Mas’ud.

Tepat pada tangga 20 Agustus 1985 berangkatlah Muhammad Farhan bersama 1 orang santri yang telah selesai menghafal al-Qur’an (Mudzakir Lampung), 1 orang santri yang telah menghafal sebanyak 17 Juz H. Zahri Bantul), 1 santri yang baru menghafal dan memiliki basis pendidikan kitab (Mu’alim Sleman) serta 30 santri yang baru mengenal pesantren. Diantar oleh almarhum bapak Sayid Usman (orang tua dari Muhammad Farhan), menumpang kereta api dari Jogjakarta, turun di stasiun Janinegara (Jakarta) singgah di rumah bapak H. Muhammad Dahlan (pemilik perkebunan), H. Muhammad Dahlan berdomisili di Pasar Jum’at Jakarta Selatan.

Setelah istirahat yang cukup, rombongan Ustadz Farhan diantar ke Bogor menuju tempat yang dijanjikan untuk mendirikan pesantren. Sejak saat itulah kegiatan belajar mengajar al-Qur’an yang diasuh oleh Ustadz Farhan dimulai.

Kurang lebih 9 tahun di PP Asmau’ Husna atas kemurahan Allah melalui hamba-Nya, Muhammad Farhan diberi kepercayaan untuk membeli sebidang tanah demi kemaslahatan ummat. Dari modal sebidang tanah, disertai do’a dari para orang tua dan guru-guru HM. Farhan Usman itu akhirnya bisa berdiri musholla, Asrama Putra, asrama Putri, dan madrasah/aula. Dan ustadz Farhan pun mendirikan pesantren sendiri. Atas anjuran Hadlorotussyaikh KH. Mufid Mas’ud, pesantren baru itu diberi nama PONDOK PESANTREN RAUDLOTUL QUR’AN (PPRQ)

Sistem pendidikan di PPRQ sama dengan sistem pendidikan yang ada di pondok-pondok takhasus menghafal al-Qur’an. Namun Ustadz Farhan lebih menekankan pada rasa tanggung jawab pada setiap individu. Contohnya santri boleh saja tidak mengaji tetapi harus tetap berani untuk disimak setiap saat.

Setiap jam 07.00 sampai dengan Dhuhur, santri diwajibkan masuk madrasah dengan diisi kajian-kajian kitab yang mendukung santri menjalankan syari’at Islam, seperti kitab Fiqih, kitab tauhid, kitab akhlaq, dan tentu saja kitab tafsir.

Pesantren Terpencil Dengan Segudang Prestasi

Musabaqoh Tiwatil Qur’an (MTQ) maupun Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ), merupakan salah stu ajang untuk syi’ar al-Qur’an. HM. Farhan Usman sebagai pengasuh PPRQ merasakan seandainya hanya mengandalkan pesantren yang berada di daerah yang terpencil, tentu kumandang al-Qur’an tidak akan bisa terdengar oleh masyarakat luas. Maka berbekal pengalaman dan arahan KH. Mu’tasjimbillah, SQ. MPd.I (Pengasuh PP. Sunan Pandanaran Yogyakarta pengganti Hadlorotussyaikh KH. Mufid Mas’ud), yang pernah menjadi juara STQ Nasional bahkan masuk rangking 10 besar tingkat internasional bidang tafsir al-Qur’an, KH. Farhan pun mengikuti jejak itu. Dengan restu dari Hadlorotussyaikh KH. Mufid Mas’ud, pada tahun 1990 KH. Farhan mengikuti STQ Nasional di Jakarta di bidang Mufasir bahasa Arab dan mendapatkan rangking II. Pada tahun berikutnya 1991 mengikuti lagi STQ tingkat Nasional di Palangkaraya dan mendapat rangking ke II dalam bidang Mufasir Bahasa Arab.

Berbekal pengalamanya mengikuti STQ Nasiional itu, KH. Farhan Usman mulai mengutus santrinya untuk mengikuti MTQ maupun STQ dari tingkat Kabupaten, Propinsi bahkan masuk ke tingkat Nasional, prestasi yang menakjubkanpun diperolehnya. Pada tahun 1994, Hj. Dewi Nur Atiqoh menjdi Juara III MTQ Nasional di Pekan Baru bidang Mufasiroh bahasa Arab. Tahun 1995, lagi-lagi Hj. Dewi Nur Atiqoh diberi

kesempatan untuk menjadi juara I STQ nasional di Palu Sulawesi bidang mufasiroh bahasa Arab. Tahun 1997, H. Musta’in mendapatkan juara I STQ Nasional di Ambon bidang Mufasir bahasa Arab. Tahun 2001, Iffah Fitriyah, Juara Harapan III STQ di Jakarta bidang Mufasiroh bahasa Arab. Tahun 2003, Ade Zaenal Muttaqin, Juara I MTQ Nasional di Mataram, bidang MHQ 10 Juz. Pada tahun 2006, Taufiq Baihaqi Marfa’ung, Juara I MTQ Nasional bidang Mufasir bahasa Inggris.H Ade zainal Muttaqin juara II MTQ Nasional di Banten bidang MHQ 20 juz putra tahun 2008. Pada tahun yang sama Yayat Sukriyati menjadi juara I MTQ Nasional di Banten bidang MHQ 20 juz putri.

“Kita mengikuti musabaqoh dengan tujuan menjadi yang terbaik. Terbaik di Mata Allah dan di mata manusia,” begitu pesan Hadlorotussyaikh KH. Mufid Mas’ud kepada KH. Farhanh ketika pertama kali meminta izin untuk mengikuti MTQ maupun STQ. Dan pesan itu akan selalu disampaikan KH. Farhan kepada santrinya yang akan mengikuti STQ maupun MTQ.

“Semua itu berkah kemurahan Allah dan berkah do’a para guru kami, lebih khusus lagi do’a dari Hadlorotussyaikh KH. Mufid Mas’ud”, tutur KH. Farhan Usman menutup perbincangan dengan penulis. [kb/rhqn]

sumber : http://koranbogor.com

Ibu, Ayah Ajari Aku Al-Quran

Ket Gbr. Ust. Syafi'i sedang mengajar Al Qur'an pada santriwati yang masuk sekolahnya siang, jadi mengaji/belajar Qur'annya pagi hari.

Saya teringat ketika saya bekerja disebuah perusahaan swasta di Jakarta, ada seorang ayah yang mengatakan “bila anak diselimuti oleh Al-Qur’an maka anak kita akan dilindungi oleh Allah dari kehidupan dan perkembangan zaman yang yang semakin brutal”

Ungkapan itu membuat saya berfikir dan coba lebih memperhatikan fenomena saat ini, banyak orang tua yang sangat khawatir terhadap pergaulan yang bebas dan pendidikan yang tidak menghasilkan banyak hal positif bagi perkembangan anak-anak. Walaupun sudah diberikan dan dipilihkan tempat yang terbaik bagi perkembangan anak–anak mereka, satu hal yang sangat penting bagi orang tua adalah, berharap anaknya kelak menjadi yang terbaik. Namun harapan demi harapan tertinggal nan jauh disana, tetap saja anak–anak sekarang menghadapi kesulitan mendapatkan culture yang Islami. Padahal banyak sekolah yang berlabel Islami, bila dilihat hasilnya hanya sekedar polesan nama saja. Output dari pendidikan yang ada sama seperti pendidikan pada umumnya, ini membuktikan bahwa kita harus memiliki terobosan–terobosan baru dalam melahirkan generasi rabbani.
Sekolah yang kita cintai ini (RUMAH TAHFIDZ) Jakarta Islamic School, memiliki responsibility yang sangat besar untuk “Melahirkan generasi khalifah Qur’ani, Menjadi Khalifah Hafidz dan Hafidzoh, Memiliki Pengetahuan yang luas (International), Akhlaq yang mulia, Cerdas, menjadi Pelajar yang sukses dan memiliki jasad yang kuat."
Al-Qur’an dapat membuat anak menjadi CERDAS, itu karena otak akan terus berproses bila anak senang dan mencintai Al-Qur’an. Bila ia mencintai dan biasa membaca dan mengkaji isi Al-Qur’an dimasa tuanya tak akan mudah pikun apalagi dia menghafal Al-Qur’an maka Allah menjamin orang tuanya akan diberikan penghargaan oleh Allah yaitu Al-Qur'an SEBAGAI PEMBELA DI HARI AKHIRAT, seperti kisah dibawah ini :
Abu Umamah r.a. berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur'an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-Qur'an."
Telah bersabda Rasulullah S.A.W : "Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya."
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, "Kenalkah kamu kepadaku?" Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"
Betapa bahagianya kita sebagai orang tua, yang memiliki anak sholeh, cerdas dan lebih–lebih sebagai asset dunia dan akhirat yang hakiki, yang menjamin pertemuan kita dengan Allah kelak di surga-Nya amiin.
Maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari."
Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu : "Adakah kamu Al-Qur'an?" Lalu Al-Qur'an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.
Pada kedua ayah dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"
Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an."
Subhanallah, sungguh luar biasa, kita sedang diberikan kesempatan oleh Allah SWT, untuk berinvestasi, investasi yang tak terhitung nilainya.
Anak adalah detik, anak adalah menit, anak adalah jam, anak adalah hari, anak adalah malam, anak adalah segalanya dalam kehidupan kita. Anak adalah hati kita, pikiran kita, penglihatan kita, pendengaran kita, tangan dan kaki kita, hembusan nafas kita, sampai dia adalah sosok yang selalu muncul dalam mimpi kita, dan dia adalah tesesan air mata kita, dia adalah isi pikiran kita, dia adalah isi do’a–do’a kita yang tak terlewatkan, harta sebesar atom dalam panggung dunia ini.
Semangat hidup hadir karena dia, senyum manis mekar karenanya, mata terbuka disiang dan malam hari karena keberadaanya, tangan yang berat ringan karena motivasinya, kaki yang lumpuh berlari kencang karena dorongannya, rasa malas yang menyelimuti hilang karena amanah yang ada, karena dia adalah KUNCI PINTU SURGA, dia adalah investasi kehidupan yang akan menjamin kita bertemu atau tidak dengan Sang Pencipta.
Marilah kita bersama, membangun generasi masa depan, yang akan menjadi pelita penyinar terang dalam kehidupan sejati. Saling membahu dan tolong menolong dalam mempersiapkan generasi qur’ani, yang akan mengizzahkan islam dipersada ini.
Ada beberapa tips yang bisa diterapkan, untuk menambah perbendaharaan metode–metode yang sudah ada dirumah yang perlu saya sampaikan, semoga dengan beberapa tips ini akan memberikan solusi dalam belajar menghafal Al-Qur’an di lingkungan rumah kita, agar mempermudah pengakraban anak–anak kita dengan Al-Qur’an :
1. Perhatian dan partisipasi orang tua. Dalam mendidik anak mencintai Al-Qur’an, kita (orang tua) harus memberikan perhatian khusus pada anak.
2. Lingkungan harus kondusif, lingkungan keluarga dan sekitar bisa memberikan nuansa yang baik dalam upaya mempelajari, menghafal dan memahami Al-Qur’an. Tempat menghafal membutuhkan tempat yang kondusif, tenang, aman tidak ada ganguan dari luar.
3. Memperhatikan pergaulan sehari–harinya, kita berusaha menghadirkan lingkungan qur’ani setiap waktu dilingkungan rumah kita.
4. Anak harus dibiasakan membaca Al-Qur’an secara teratur dan istiqomah.
5. Berikan waktu khusus untuk menghafal, contohnya setiap selesai sholat magrib, isya’dan subuh.
6. Berikan target khusus untuk belajar dan menghafal Al-Qur’an, contohnya membaca Al-Qur’an 5 ayat setiap setelah atau sebelum sholat (memiliki jadwal khusus )
7. Membiasakan sebelum mengjerjakan setiap pekerjaan (belajar) diusahakan untuk menghafal Al-Qur’an minimal 1 ayat.
8. Dalam mempelajari Al-Qur’an harus memakai metode yang bervariatiaf, diselingi cerita (bisa cerita tentang isi Al-Qur’an), bermain, atau bisa dengan alat–alat yang mendukung untuk mempelajari Al-Qur’an tersebut (visual/vidio, kaset,dll), dengan begitu anak akan menjadi senang dan mudah mempelajari dan memahami Al-Qur’an.
9. Orang tua ( Ayah dan Ibu ) harus saling bahu membahu dalam menjadikan dan mensukseskan anak dalam mempelajari, Menghafal Al-Qur’an.
10. Orang tua dan guru disekolah harus membangun komunikasi yang efektif, dalam rangka mengembangkan dan memberikan dukungan penuh kepada anak–anak disekolah dan dirumah.
Saya yakin guru dan semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anak–anaknya, amanah ini harus dijaga dan dipelihara karena dia adalah salah satu kunci kita masuk kedalam surga.
Oleh karena itu rasanya penting untuk saling berbagi dalam hal ini, sekolah adalah salah satu tempat menimba ilmu, belajar untuk mengerti dan memahami, belajar untuk menerapkannya, belajar untuk menyampaikan kepada orang lain. Rumah juga adalah tempat belajar yang efektif, tepat dan cepat, karena mereka bersama guru yang pertama, guru yang dimuliakan Allah, guru tercinta, guru yang menjadi kunci mereka masyuk surga, dia adalah Ibunya, dia adalah Ayahnya.
Amin Yaa Robbal ‘Alamin.
Wallahu a’lam bissowaf

Rabu, 03 Juni 2009

10 Tips Menghafal Al Qur’an

“Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zhalim (QS. Al Ankabut : 49)



















1. Niat ikhlas dan tekad kuat

Menghafal al Qur’an adalah amal mulia. Tapi tanpa niat ikhlas hanya untuk mendapat ridha-Nya, kemuliaan dan selamat dari siksa, amalan hanya akan sia-sia. Apresiasi dari manusia berupa pujian, penghormatan dan rasa segan hanyalah sementara. Jangan sampai semua itu menodai amal kita atau bahkan menjadikan pahalanya musnah dan amalan pun sia-sia

2. Berdo’a dan berusaha keras menghindari maksiat

Memohonlah kepada Allah, karena do’a orang mukmin takkan pernah sia-sia. Memintalah agar Allah berkenan menganugerahkan nikmat hafalan al Qur’an pada kita. Tentang maksiat, adh Dhahak bin Muzahim berkata, ”Tidaklah seseorang mempelajari al Qur’an lalu ia lupa akan hafalannya, melainkan karena dosa yang dilakukannya.”

3. Mempelajari tajwid dan tahsin

Mempelajari tajwid dan tahsin dalam menghafal al Qur’an adalah hal yang tak bisa ditawar. Sangatlah ironis jika hafal banyak ayat, tapi bacaannya masih salah dan kurang fasih.

4. Mengulang (tikrar) dan memperdengarkan (tasmi’) hafalan

Hal ini akan membantu pemindahan memori dari otak kiri yang cepat hafal tapi mudah hilang ke otak kanan yang lamban tapi dapat bertahan lama, sekaligus koreksi bacaan berupa ayat atau kalimat yang terlewat.

5. Shalat dengan bacaan yang telah dihafal

Dengan hafalan baru, kita membuat bacaan shalat kita lebih bervariatif dan lebih beratsar (berbekas)

6. Memahami makna ayat

Memahami makna ayat adalah jurus ampuh memudahkan hafalan. Terutama ayat-ayat yang berisi kisah dan hukum

7. Berusaha mengamalkan

Para shahabat tidak berpindah dari mempelajari 10 ayat sebelum mengamalkannya.

8. Bergabung dalam kelompok

Dengan berkumpul bersama penghafal, semangat dan keistiqomahan kita dapat terjaga.

9. Gunakan satu jenis mushaf

Bergonta-ganti mushaf berefek kurang baik pada hafalan. Dengan menggunakan satu mushaf, kinerja otak akan terbantu dan hafalan pun akan lebih lancar.

10. Memanfaatkan usia emas dalam menghafal

Usia emas untuk menghafal yang dimaksud adalah usia antara 5 sampai kurang lebih 23 tahun. Pada usia ini kekuatan hafalan sangat bagus. Adapun usia setelahnya, bukan berarti kesempatan menghafal tertutup. Karena menghafal adalah pekerjaan ketekunan dan kesabaran, siapa yang tekun dan sabar, hasil yang dicapai insyaallah tetap memuaskan. (Disarikan dari: Cara cerdas menghafal al Quran, Dr. Raghib A)

HAFALAN AL-QUR'AN DALAM KELUARGA


Beberapa bulan yang lalu, Ustadzah Yoyoh Yusro salah satu anggota dewan dari fraksi PKS memberikan sebuah ceramah yang cukup menarik tentang bagaimana sebuah keluarga menjadi keluarga dakwah yang mencetak generasi-generasi yang mampu menggantikan dan mengisi kekosongan-kekosongan dalam sebuah peradaban.
Beliau banyak menyinggung tentang hafalan al-qur’an dalam diri aktivis dakwah dan keluarga para aktivis. Beliau bercerita tentang para ummahat dari Palestina yang datang ke Indonesia, bahwa ketika mereka berbicara di depan umum, mereka selalu ta’aruf dengan menyebutkan nama, status, dan berapa juz hafalan Al-qur’annya. Dan subhanallah, rata-rata mereka telah hafal 30 juz Al-qur’an, sementara kita ketahui bersama bahwa Palestina adalah negara yang selalu dihujani konflik, bom, dan tembakan di mana-mana bahkan untuk sholat pun nyawa menjadi taruhannya, namun mereka mampu menjadi hafidzhoh yang handal bahkan anak-anak mereka pun demikian.

Sedangkan di Indonesia masih bisa kita hitung para penghafal Al-qur’annya, padahal kalau menurut saudara-saudara kita di luar Indonesia, Indonesia itu ibarat “Syurga Dakwah”, sebuah negara mayoritas muslim dan islam bertebaran di mana-mana, kita merdeka dalam melakukan ibadah, fasilitas lengkap, dan kondisi sangat mendukung untuk menjadi para penghafal, tetapi kenyataannya sangat jauh dari yang diharapkan.Baru-baru ini Ustadzah memberikan ceramahnya dengan lebih spesifik, bagaimana sebuah keluarga aktivis dakwah mampu memelihara hafalan Al-qur’an baik antara suami, istri, dan anak-anaknya. Point penting dari ceramah ustadzah adalah sebagai berikut :

1. Al-qur’an tidak akan mendekat pada orang yang menganggapnya sulit, so hendaknya kita mempunyai perspektif bahwa menghafal Al-qur’an itu tidak sulit

2. Suami bertanggungjawab untuk meningkatkan bacaan dan hafalan al-qur’an sang istri

3. Para istri harus rajin setor hafalan pada suami baik dalam keadaan susah maupun senang

4. Kewajiban pada Allah konsisten dilaksanakan, maka Allah pasti memberi kemudahan karena sayang Allah pada seorang hamba lebih sayang daripada seorang ibu pada anaknya

5. Tidak ada halangan bagi mereka yang tinggal di negara yang mayoritas nonmuslim untuk hafal Al-qur’an

6. Para suami juga harus menjaga hafalannya

7. Allah Maha Tahu tentang keinginan-keinginan kita, maka kalau kita ingin kita dan anak kita hafal alquran, insyaAllah Allah akan mengabulkan do’a-do’a kita

8. Melatih anak-anak untuk menghafal Al-qur’an sejak masih kecil, dimulai dengan surat- surat pendek terlebih dahulu, cara menghafal dapat disesuaikan dengan kondisi anak, bisa sambil mendengar vcd Al-qur’an atau dengan cara permainan, semua tergantung sang Ibu yang mendidiknya

9. Shalat tepat waktu karena waktu kita akan menjadi berkah

10. Bangun malam untuk melakukan shalat qiyamul lail

11. Shalat subuh dan ashar tepat waktu, karena pada waktu-waktu tersebut malaikat mendoakan kita

12. Apa yang bisa kita berikan untuk dakwah ini, maka Allah akan memberi keberkahanDemikianlan point penting dari ceramah beliau. Sungguh, sebuah tulisan tak akan ada manfaatnya jika hanya sekedar ditulis dan dibaca melainkan diaplikasikan dalam kehidupan kita. InsyaAllah.

Cara Yang Paling Mudah Menghafal Al-Qur'an


Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Pertanyaan.
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Apa nasihat anda kepada para pemuda dalam menempuh cara yang paling mudah untuk menghafal Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala ?
Jawaban.
Al-Qur’an itu dimudahkan dan sangat mudah menghafalnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk dijadikan pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” [Al-Qamar : 17]
Dan yang menentukan adalah kemauan orang dan ketulusan niatnya. Bila dia memiliki kemauan yang tulus dan keseriusan terhadap Al-Qur’an, maka Allah akan memudahkan dia untuk menghafalnya dan memudahkan Al-Qur’an untuk dihafal.

Ada beberapa hal yang membantu dalam mengahafalnya, seperti mengkhususkan waktu yang sesuai setiap hari. Engkau belajar kepada guru Al-Qur’an di masjid dan Alhamdulillah guru-guru Al-Qur’an sekarang sangat banyak (di Saudi, -pent). Engkau tidak mendapatkan satu perkampungan melainkan pasti di dalamnya ada orang yang mengajarkan Al-Qur’an. Ini kesempatan yang mulia sekali yang zaman dahulu belum pernah terjadi.

Maka seharusnya saudara kita ini memilih halaqah atau guru yang ada itu dan selalu hadir bersama guru tersebut sampai hafalannya tamat.

Engkau juga harus mengulang-ulang apa yang telah engkau baca, dua kali, tiga kali dan seterusnya, sampai hafalan itu melekat di hati dan ingatanmu. Dan kewajibanmu adalah mengamalkan Kitab Allah ini, karena hal itu merupakan wasilah (sarana) yang paling agung untuk mempelajarinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan bertakwalah kamu kepada Allah : Allah mengajarmu ; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” [Al-Baqarah : 282]

[Disalin dari buku 70 Fatwa Fii Ihtiraamil Qur’an, edisi Indonesia 70 Fatwa Tentang Al-Qur’an, Penyusun Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz, Penerbit Darul Haq]

"Sudahkah kita membaca Alqur'an hari ini?
Berapa kali dalam sebulan kita mengkhatam Al qur'an."
( Khairukum man ta'allamal qur'an wa 'allamah).
SOMEDAY IS TODAY, DO IT NOW OR NEVER

TIPS OF THIS DAY
“Didiklah anakmu dengan 3 perkara: mencintai Allah, mencintai Rasul dan belajar Al-Qur’an” (Al-hadits)